Inilah saya bagi keluarga dan
kontribusi yang telah, sedang dan akan saya berikan untuk Indonesia
Kalau hidup hanya sekadar hidup babi di hutan juga hidup,
kalau bekerja hanya sekadar bekerja
kera diladang juga bekerja
(Menjadi Pribadi yang bermanfaat
By: Muhammad Rizki Arhan
Kutipan yang saya catut diatas adalah
perkataan dari seorang pembesar bangsa negeri ini, kebetulan saya dan beliau
sama-sama berasal dari ranah minang. Teladan beliau memang sudah sangat tidak
asing bagi saya, kakek saya kebetulan
merupakan “fans berat” beliau. Semasa muda taujih-taujih dari buya –begitu
orang memanggilnya, begitu menyihir pemikiran kakek saya yang tergabung dalam
sebuah perkumpulan pemuda salah satu Ormas terbesar di negeri ini. Fotonya pun
sampai sekarang masih akrab menemani hari-hari tua kakek saya. sehari sebelum
keberangkatan saya ke tanah rantau ,Jakarta, kakek memberi sebuah pesan khusus
kepada saya agar nantinya di perantauan saya mampu menjadi pemuda yang aktif
yang berkemauan keras dan peduli pada lingkungannya. “Nanti di kampus, ikutlah
organisasi. Jangan sempat kakek dengar kau diam di kos saja” begitu kata kakek
saya.
Singkat cerita itulah yang saya
lakukan pada tahun awal perantauan saya. Satu tahun sudah berlalu sebenarnya
semenjak saya meninggalkan kampong saya. sebelum berkuliah di STEI SEBI.
Setahun sudah saya mengecap pendidikan di salah satu kampus elit negeri.
PKN-STAN. Nasihat kakek betul saya jalankan, semangat membara mahasiswa baru
membuat saya langsung tergerak bergabung dengan Lembaga Dakwah Kampus disana.
Banyak pelajaran yang saya ambil di LDK MBM –begitulah namanya. Bertemu dengan
para tokoh-tokoh berpengaruh negeri yang sedari masa mudanya sudah mengecap
organisasi di kampusnya masing-masing. Soedirman Said mantan Menteri ESDM, Cris
Kuntadi Irjen kemenhub, Salim Darmadi praktisi di OJK. Ketiga tokoh yang
benar-benar menginspirasi agar terus bergerak dan bergerak. Tetap menjadi sinar
terang di tempat yang gelap sekalipun.
Sebagai anak pertama bahkan cucu
pertama dalam garis keluarga dari ayah saya. Saya memang sudah di Ultimatum
oleh kakek saya agar dapat menjadi “abang” panutan bagi keluarga saya. Salah
satu kontribusi yang terus saya giatkan kepada adik-adik saya adalah agar terus
mendorong mereka dalam berorganisasi baik di sekolah maupun di lingkungan
sekitar mereka. “Jadi yang paling tua harus punya wibawa”, begitu nasehat
kakeknya. Alhamdulillah Naluri seorang “abang” dari saya dapat mendorong
adik-adik saya untuk turut aktif di kegiatan OSIS dan Rohis. Bahkan untuk
dilingkungan Rumah saya, Saya beserta kedua adik saya turut serta aktif dalam
organisasi kepemudaan Remaja Mesjid. Sebuah kebanggaan bagi saya kala saya yang
sekarang ini sudah tidak menetap lagi di kampung saya, namun Ghirah dari
adik-adik saya dalam berorganisasi itu tidak turut luntur. Bagi saya menjadi
contoh yang baik bagi keluarga adalah harga mutlak. Sebagai seorang pecandu
buku, satu hal juga yang selalu ditunggu oleh adik-adik saya bahkan ibu hingga
kakek saya adalah kepulangan saya setiap kali mudik yang selalu membawakan
buku-buku baru. “bang, nanti pulang bawa buku ya dari Jakarta”, sebuah
kebahagiaan tentunya kala Ghiroh membaca terpatri didalam keluarga saya.
Sekarang Saya berkuliah di STEI SEBI.
Pindah kampus tentunya bukan alasan bagi saya untuk menghilangkan semangat saya
dalam berorganisasi. Bahkan bisa dibilang dikampus inilah saya lebih berkembang
secara baik secara Tsaqofah Keilmuan maupun manajemen waktu. Untuk itulah
meskipun berorganisasi, tentunya saya tetap tidak meninggalkan kewajiban saya
sebagai seorang akademisi. Saat ini saya tergabung dalam Forum Keilmuan
berwadah Kelompok Study Ekonomi Islam ISEF (KSEI IsEF STEI SEBI). Sebuah
naungan organisasi yang dalam Visinya adalah membumikan Ekonomi Islam. Tak lupa
juga sebagai seorang akademisi, alangkah hambar rasanya jika Ilmu yang saya
dapatkan tidak bisa saya bagikan. Mengajar adalah salah satu cara saya agar
dapat tetap bergerak. Selain memang Karena hobi, dari uang mengajar pulalah
saya mampu membeli buku yang biasanya saya bawa pulang kala mudik ke kampung. Yup,
salah satu cita-cita terkecil saya adalah memiliki perpustakaan pribadi di
rumah saya nanti.
Kalau hidup hanya sekadar hidup babi
di hutan juga hidup, kalau bekerja hanya sekadar bekerja kera diladang juga
bekerja. Kembali ke
kutipan pada awal pembuka essay saya. Maka ketika saya ditanya Kontribusi yang
akan saya berikan bagi Indonesia di kemudian hari adalah menjadi seorang Guru
bangsa. Bukan sekedar menikmati pekerjaan mapan lalu kerja menunggu pensiun dan
mati. Sungguh dalam relung hati terdalam saya, selalu tertanam sejak kecil,
salah satu cita-cita terbesar saya yakni mendirikan sebuah sekolah yang mampu
meciptakan manusia-manusia unggul demi tercetaknya generasi emas Indonesia pada
tahun 2045. Tak masalah jika saya bukan menjadi seorang Soekarno yang
membacakan teks proklamator kemerdekaan Indonesia, menjadi seorang Soekarni yang
hanya sekadar mengusulkan agar teks tersebut dibubuhkan tanda tangan
sang proklamator saja saya sudah bangga. Asal saya yakin berada dipihak yang
benar dalam pergerakan, maka pantang bagi saya tak berada dalam
pergerakan itu.