counters

Kamis, 05 Oktober 2017

BEASISWA BAZMA PERTAMINA

Inilah saya bagi keluarga dan kontribusi yang telah, sedang dan akan saya berikan untuk Indonesia

Kalau hidup hanya sekadar hidup babi di hutan juga hidup,
kalau bekerja hanya sekadar bekerja kera diladang juga bekerja

(Menjadi Pribadi yang bermanfaat
By: Muhammad Rizki Arhan

Kutipan yang saya catut diatas adalah perkataan dari seorang pembesar bangsa negeri ini, kebetulan saya dan beliau sama-sama berasal dari ranah minang. Teladan beliau memang sudah sangat tidak asing bagi  saya, kakek saya kebetulan merupakan “fans berat” beliau. Semasa muda taujih-taujih dari buya –begitu orang memanggilnya, begitu menyihir pemikiran kakek saya yang tergabung dalam sebuah perkumpulan pemuda salah satu Ormas terbesar di negeri ini. Fotonya pun sampai sekarang masih akrab menemani hari-hari tua kakek saya. sehari sebelum keberangkatan saya ke tanah rantau ,Jakarta, kakek memberi sebuah pesan khusus kepada saya agar nantinya di perantauan saya mampu menjadi pemuda yang aktif yang berkemauan keras dan peduli pada lingkungannya. “Nanti di kampus, ikutlah organisasi. Jangan sempat kakek dengar kau diam di kos saja” begitu kata kakek saya.

Singkat cerita itulah yang saya lakukan pada tahun awal perantauan saya. Satu tahun sudah berlalu sebenarnya semenjak saya meninggalkan kampong saya. sebelum berkuliah di STEI SEBI. Setahun sudah saya mengecap pendidikan di salah satu kampus elit negeri. PKN-STAN. Nasihat kakek betul saya jalankan, semangat membara mahasiswa baru membuat saya langsung tergerak bergabung dengan Lembaga Dakwah Kampus disana. Banyak pelajaran yang saya ambil di LDK MBM –begitulah namanya. Bertemu dengan para tokoh-tokoh berpengaruh negeri yang sedari masa mudanya sudah mengecap organisasi di kampusnya masing-masing. Soedirman Said mantan Menteri ESDM, Cris Kuntadi Irjen kemenhub, Salim Darmadi praktisi di OJK. Ketiga tokoh yang benar-benar menginspirasi agar terus bergerak dan bergerak. Tetap menjadi sinar terang di tempat yang gelap sekalipun.

Sebagai anak pertama bahkan cucu pertama dalam garis keluarga dari ayah saya. Saya memang sudah di Ultimatum oleh kakek saya agar dapat menjadi “abang” panutan bagi keluarga saya. Salah satu kontribusi yang terus saya giatkan kepada adik-adik saya adalah agar terus mendorong mereka dalam berorganisasi baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar mereka. “Jadi yang paling tua harus punya wibawa”, begitu nasehat kakeknya. Alhamdulillah Naluri seorang “abang” dari saya dapat mendorong adik-adik saya untuk turut aktif di kegiatan OSIS dan Rohis. Bahkan untuk dilingkungan Rumah saya, Saya beserta kedua adik saya turut serta aktif dalam organisasi kepemudaan Remaja Mesjid. Sebuah kebanggaan bagi saya kala saya yang sekarang ini sudah tidak menetap lagi di kampung saya, namun Ghirah dari adik-adik saya dalam berorganisasi itu tidak turut luntur. Bagi saya menjadi contoh yang baik bagi keluarga adalah harga mutlak. Sebagai seorang pecandu buku, satu hal juga yang selalu ditunggu oleh adik-adik saya bahkan ibu hingga kakek saya adalah kepulangan saya setiap kali mudik yang selalu membawakan buku-buku baru. “bang, nanti pulang bawa buku ya dari Jakarta”, sebuah kebahagiaan tentunya kala Ghiroh membaca terpatri didalam keluarga saya.

Sekarang Saya berkuliah di STEI SEBI. Pindah kampus tentunya bukan alasan bagi saya untuk menghilangkan semangat saya dalam berorganisasi. Bahkan bisa dibilang dikampus inilah saya lebih berkembang secara baik secara Tsaqofah Keilmuan maupun manajemen waktu. Untuk itulah meskipun berorganisasi, tentunya saya tetap tidak meninggalkan kewajiban saya sebagai seorang akademisi. Saat ini saya tergabung dalam Forum Keilmuan berwadah Kelompok Study Ekonomi Islam ISEF (KSEI IsEF STEI SEBI). Sebuah naungan organisasi yang dalam Visinya adalah membumikan Ekonomi Islam. Tak lupa juga sebagai seorang akademisi, alangkah hambar rasanya jika Ilmu yang saya dapatkan tidak bisa saya bagikan. Mengajar adalah salah satu cara saya agar dapat tetap bergerak. Selain memang Karena hobi, dari uang mengajar pulalah saya mampu membeli buku yang biasanya saya bawa pulang kala mudik ke kampung. Yup, salah satu cita-cita terkecil saya adalah memiliki perpustakaan pribadi di rumah saya nanti.
           
Kalau hidup hanya sekadar hidup babi di hutan juga hidup, kalau bekerja hanya sekadar bekerja kera diladang juga bekerja. Kembali ke kutipan pada awal pembuka essay saya. Maka ketika saya ditanya Kontribusi yang akan saya berikan bagi Indonesia di kemudian hari adalah menjadi seorang Guru bangsa. Bukan sekedar menikmati pekerjaan mapan lalu kerja menunggu pensiun dan mati. Sungguh dalam relung hati terdalam saya, selalu tertanam sejak kecil, salah satu cita-cita terbesar saya yakni mendirikan sebuah sekolah yang mampu meciptakan manusia-manusia unggul demi tercetaknya generasi emas Indonesia pada tahun 2045. Tak masalah jika saya bukan menjadi seorang Soekarno yang membacakan teks proklamator kemerdekaan Indonesia, menjadi seorang Soekarni yang hanya sekadar mengusulkan agar teks tersebut dibubuhkan tanda tangan sang proklamator saja saya sudah bangga. Asal saya yakin berada dipihak yang benar dalam pergerakan, maka pantang bagi saya tak berada dalam pergerakan itu.