counters

Rabu, 28 Januari 2015

Mencetak Generasi Emas Tanpa Riba!

            Tulisan ini sebenarnya saya  buat saat ingin mengikuti lomba Karya Tulis SES STAN. Alhamdulillah......artikel saya bukan yang terbaik hehehehe. Nah supaya tulisan saya bisa lebih bermanfaat, lebih baik saya posting di Blog saya yang belum seberapa ini ya.....
Mohon dikoreksi jika tulisan saya salah thx.

Kaya Tanpa Riba
Pada dasarnya semua orang ingin kaya. Tidak ada yang melarang manusia untuk kaya, bahkan Allah mencintai orang yang senantiasa berusaha untuk kesejahteraan hidupnya. Berikut Firman Allah dalam Surah Al-Qasash ayat 77
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”
Dari ayat diatas jelas Allah SWT tidak melarang umatnya untuk memperoleh kebahagiaan dunia termasuk kaya. Nah, untuk mencapai sebuah kekayaan namun juga akan berkah tentunya harus berpegang teguh pada ekonomi Syariah, ekonomi yang berpondasi pada hukum-hukum Islam. Dalam hal ini tentunya kita sudah jelas harus banyak belajar pada sosok hebat bernama Muhammad Bin Abdullah. Rasulullah Muhammad SAW pernah berkata bahwa sebagian besar rezeki manusia diperoleh dari aktivitas dagang. Kejeniusan beliau dalam mengelola alur perdagangan dan tentunya Zakat di tanah Arab membuat Mekkah dan Madinah menjadi negeri yang makmur meski beribu masalah datang menghampiri Umat Islam.

Kalau kita lihat pada masa sekarang ini, Kesadaran masyarakat muslim akan pentingnya ekonomi islam kian hari semakin meningkat meskipun masih belum begitu pesat. Namun sedikit demi sedikit pengetahuan masyarakat terhadap sistem ekonomi syariah akan terus berkembang dengan semakin gencarnya gerakan ekonomi syariah baik di dunia maupun di tanah air. Sudah banyak lahir Perusahaan-perusahaan dan Bank-Bank yang meletakkan konsep dasar ekonomi Islam kedalam Usaha mereka. Konsep dasar Ekonomi Islam yang Menitikberatkan pada konsep “No Bunga” adalah dengan menjadikan manusia sebagai subjek Ekonomi bukan Objek Ekonomi. Setiap Muslim wajib dan jelas untuk patuh dan berperan dalam Syiar Islam termasuk dalam berekonomi.

Sekarang yang jadi pertanyaan adalah, Bagaimana peran Mahasiswa?

Mahasiswa sebagai salah satu elemen reformasi adalah harapan satu-satunya dari generasi tua. Amanah besar dipegang olehnya. Sebagai Agen Perubahan yang jauh berpikir ke depan namun tidak meninggalkan apa yang telah diwariskan pendahulu mereka. Terkhusus bagi Mahasiswa Muslim yang harus selalu sedia menjadi penerus Panji-panji Jihad Rasulullah tentunya tak ada pilihan lain selain berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, termasuk dalam berekonomi.

Banyak peran yang dapat dimainkan oleh Mahasiswa Muslim dalam berekonomi dan alangkah lebih baiknya jika mereka bisa memadukan semuanya.

Peran Pertama yakni sebagai Pionir.

Dalam hal ini Mahasiswa yang tentunya mewakili semangat Muda-mudi Islam masa kini berperan sebagai orang yang “Take Action”. Mahasiswa dituntut untuk bisa mandiri dalam berekonomi. Mengelola keuangan tanpa Riba, menegakkan dan amanah terhadap Zakat dan Shodaqoh, Rikaz, dan Waqaf.

Mahasiswa yang mandiri adalah mahasiswa yang tidak terlalu berharap pada Orang tuanya. Mahasiswa dituntut untuk menjadi Entrepreunership disamping kewajibannya menuntut ilmu. Jualan sambil dagang??? Bukan tidak mungkin. Ada banyak hal yang dapat dijual oleh mahasiswa namun juga menebar pahala. Contoh kecil adalah mahasiswa yang berjualan Hijab, Buku-buku agama, Alat-alat sholat. Itu hanyalah contoh kecil. Contoh besar tentunya dengan mengadakan seminar akbar ekonomi Syariah dengan mengundang motivator-motivator hebat yang diharapkan dari hal ini dapat menelurkan pemikiran-pemikiran hebat terhadap mahasiswa itu sendiri dan diteruskan sampai kepada masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari juga tentunya Mahasiswa juga tidak bisa dilepaskan dari aktivitas berekonomi seperti, Jual-beli, Utang-piutang,Sewa-menyewa hingga menyimpan uang di Bank. Dalam hal yang menyangkut Riba, tentunya mahasiswa yang cerdas tahu betul bahwa Riba itu adalah haram oleh karena itu alangkah baiknya jika dalam kehidupan sehari seperti halnya hutang-piutang atau jual beli mahasiswa tidak meletakkan Riba kedalamnya. Dalam menabung Uang ke Bank hendaknya lebih memilih menabung di Bank-Bank yang berbasis Syari’ah ketimbang Bank-Bank Umum walaupun sebenarnya Bank itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari Riba juga. Namun secara Umum masyarakat saat ini lebih suka menyimpan uang di bank ketimbang menyimpan secara Pribadi. Nah, Untuk kasus seperti ini sebaiknya kita berpegang pada sabda Nabi sebagai berikut.

“Jika kau dihadapkan dalam 2 pilihan yang buruk maka pilihlah diantara kalian 1 pilihan yang kadar Mudharatnya jauh lebih sedikit”

Tentunya sebagai manusia cerdas dan berakhlaq kita akan memilih pada Bank Syariah. Paling tidak konsep dasar nilai-nilai Islam masih ada dalam Bank Syariah.

Dalam hal tanggung jawab. Tentunya sudah kewajiban bagi setiap manusia untuk menyalurkan Zakat dan Sedekah. Pada Zaman Rasulullah Zakat merupakan salah satu penerimaan terbesar buat pemerintahan Rasulullah. Jika dalam lingkup kemahasiswaan saja kita sudah mampu menyikapi Zakat dan sedekah secara serius, Bayangkan saja masa depan Indonesia mungkin akan lebih cerah dan tidak selalu berharap terhadap penerimaan pajak dan Cukai tembakau sebagai penerimaan terbesar Negara yang sesungguhnya rawan Mudharat.

Zakat dan pajak merupakan dua hal yang penting dan tidak dapat dipungkiri keberadaannya dalam kehidupan masyarakat sehingga timbul permasalahan mengenai hal mana yang harus lebih diutamakan. Zakat adalah wajib bagi Muslim sementara pajak????
Pajak sebenarnya diwajibkan bagi orang-orang non muslim kepada pemerintahan Islam sebagai  jaminan keamanan. Maka saat pajak dibebani untuk orang Islam, banyak ulama yang menentangnya namun ada juga yang membolehkannya tentunya dengan syarat. Diantara ulama yang membolehkan pemerintahan Islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah Imam Ghozali, Imam Syatibi dan Imam Ibnu Hazm. Mereka berpendapat bahwa jika Negara sangat membutuhkan dana maka Negara boleh memungut pajak dari kaum muslimin.
"Sesungguhnya pada harta ada kewajiban/hak (untuk dikeluarkan) selain zakat."
( HR Tirmidzi, no: 595 dan Darimi, no  : 1581, di dalamnya ada rawi : Abu Hamzah ( Maimun ), menurut Ahmad bin Hanbal dia adalah dho’if hadist, dan menurut Imam Bukhari : dia tidak cerdas )
Ulama yang ilmunya tentu sudah tidah dapat diragukan lagi dalam hal ini saja masih bisa berbeda pendapat. Toh, dengan kita yang sesungguhnya masih awam. Oleh karena itu dibutuhkan lebih dari Mahasiswa cerdas untuk menyikapi gejolak yang tiada akhir di masa mendekati akhir Zaman ini. Dibutuhkan Mahasiswa Berakhlaq agar dapat membedakan yang Haq dan Bathil dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang terpenting dalam perekonomian Islam, “Jalankan Zakatmu!!” karena itu wajib bagi setiap Muslim yang hidup.






Peran Kedua yakni sebagai Da’i.
Sebagai generasi yang sangat dibanggakan oleh Baginda Rasulullah, Jalan Dakwah yang merupakan warisan Rasulullah wajib kita teruskan tak terkecuali dalam kegiatan ekonomi.
 “Sampaikanlah Ilmuku walau hanya 1 ayat”

Di Masa lalu kita punya Ibnu Khaldun dan tentunya Rasulullah yang berperan sebagai Tokoh ekonomi namun juga seorang Da’i. Di masa sekarang ini khususnya di Indonesia kita punya Bapak Al-Ustadz Yusuf Mansur sebagai tokoh Ekonomi yang berperan sebagai Mubaligh juga. Mahasiswa yang merupakan sosok Intelek khususnya yang akrab dengan perkuliahan masalah ekonomi tentunya harus bisa memahami masalah dengan cerdas terkait ekonomi konvesional dan memadukannya atau malah mengganti jika ada yang keliru dengan Ekonomi Syariah. Bagaimana caranya??? Jawabannya adalah dengan Dakwah.  Dakwah yang paling popular dikalangan Mahasiswa adalah dengan menulis. Sahabat,Menantu,sekaligus Sepupu Nabi Muhammad pernah berkata “Jika kau memiliki Ilmu maka tulislah ia, agar ia abadi”. Dalam menulis khususnya mengenai Ekonomi Syariah yang kebanyakan berlandaskan pada Fiqh, mahasiswa tidak boleh hanya berkutat pada 1 referensi saja. Jangan sampai Ilmu yang tujuannya untuk memberi pencerahan malah menghadirkan perselisihan.

Selain Menulis, banyak hal lainnya seperti aktif langsung dalam kegiatan Tabligh Akbar atau seminar yang membahas Khusus mengenai masalah perekonomian Syariah. Dengan begitu diharapakan Mahasiswa juga dapat menjadi lintas dakwah secara langsung dengan menjadi paling tidak motivator dalam berekonomi syariah dalam keluarga dan teman-temannya.

Di Zaman yang serba canggih ini, Lintas Dakwah semakin kreatif. Dakwah dapat dilakukan lewat SosMed atau juga dapat melalui Spanduk dan poster-poster yang dapat langsung menggaungkan Syiar Islam langsung kepada mereka yang melihat.

Peran ketiga yakni sebagai Penyeimbang

Mahasiswa harus bisa menularkan rasa optimis dan Idealis. Perekonomian Islam harus bisa berkembang di tengah sekulerisasi dalam perekonomian dunia. Mahasiswa tidak bisa lengah sedikitpun menghadapi gelombang arus globalisasi yang terus menghadang. Ancaman ekonomi Kapitalis yang bersumber pada keuntungan Pribadi dan ekonomi komunis yang bersumber dimana hak milik perseorangan tidaklah diakui, adalah 101 % salah besar. Dalam ekonomi Islam tidak ada sedikitpun yang dirugikan. Jikapun ia tidak Untung paling tidak ia tidak rugi.

Semua Kerugian Dikembalikan kepada Harta dan Pemiliknya, Sementara Keuntungan Milik Kedua Belah Pihak. Begitulah Prinsip Ekonomi Islam. Alangkah beruntungnya menjadi Umat Muhammad. Tidak ada ruginya sama sekali menjadi Umat Islam. Untuk itu, Prinsip-prinsip Khilafah Islamiyah perlu ditegakkan kembali agar bukan hanya perekonomian umat Islam saja yang stabil namun dunia secara keseluruhan.

Ketiga contoh diatas sebenarnya adalah beberapa contoh kecil dalam berekonomi Syariah. Banyak lagi hal yang dapat dilakukan oleh Mahasiwa guna menelurkan Generasi Emas Syariah yang bebas Riba. Apapun Jalan yang kita ambil untuk mendapat kekayaan pastikan jalan itu adalah jalan yang halal. Pastikan Langkah yang kita ambil tidak hanya menjadikan manusia yang sukses di dunia namun juga sukses di akhirat. Pastikan kita meraih Surga-Nya bersanding dengan tokoh-tokoh hebat di masa lalu. Jadilah “The Perfect Muslim”. Tegakkan Khilafah! Dan jadilah “Generasi Emas Tanpa Riba”.