Tulisan ini sebenarnya saya buat saat ingin mengikuti lomba Karya Tulis SES STAN. Alhamdulillah......artikel saya bukan yang terbaik hehehehe. Nah supaya tulisan saya bisa lebih bermanfaat, lebih baik saya posting di Blog saya yang belum seberapa ini ya.....
Mohon dikoreksi jika tulisan saya salah thx.
Kaya Tanpa Riba
Pada
dasarnya semua orang ingin kaya. Tidak ada yang melarang manusia untuk kaya,
bahkan Allah mencintai orang yang senantiasa berusaha untuk kesejahteraan
hidupnya. Berikut Firman Allah dalam Surah Al-Qasash ayat 77
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”
Dari
ayat diatas jelas Allah SWT tidak melarang umatnya untuk memperoleh kebahagiaan
dunia termasuk kaya. Nah, untuk mencapai sebuah kekayaan namun
juga akan berkah tentunya harus berpegang teguh pada ekonomi Syariah, ekonomi
yang berpondasi pada hukum-hukum Islam. Dalam hal ini tentunya kita sudah jelas
harus banyak belajar pada sosok hebat bernama Muhammad Bin Abdullah. Rasulullah Muhammad SAW pernah berkata bahwa sebagian
besar rezeki manusia diperoleh dari aktivitas dagang. Kejeniusan beliau dalam
mengelola alur perdagangan dan tentunya Zakat di tanah Arab membuat Mekkah dan
Madinah menjadi negeri yang makmur meski beribu masalah datang menghampiri Umat
Islam.
Kalau
kita lihat pada masa sekarang ini, Kesadaran masyarakat muslim akan pentingnya
ekonomi islam kian hari semakin meningkat meskipun masih belum begitu pesat.
Namun sedikit demi sedikit pengetahuan masyarakat terhadap sistem ekonomi
syariah akan terus berkembang dengan semakin gencarnya gerakan ekonomi syariah baik
di dunia maupun di tanah air. Sudah banyak lahir Perusahaan-perusahaan dan
Bank-Bank yang meletakkan konsep dasar ekonomi Islam kedalam Usaha mereka.
Konsep dasar Ekonomi Islam yang Menitikberatkan pada konsep “No Bunga” adalah
dengan menjadikan manusia sebagai subjek Ekonomi bukan Objek Ekonomi. Setiap
Muslim wajib dan jelas untuk patuh dan berperan dalam Syiar Islam termasuk
dalam berekonomi.
Sekarang yang
jadi pertanyaan adalah, Bagaimana peran Mahasiswa?
Mahasiswa
sebagai salah satu elemen reformasi adalah harapan satu-satunya dari generasi
tua. Amanah besar dipegang olehnya. Sebagai Agen Perubahan yang jauh berpikir
ke depan namun tidak meninggalkan apa yang telah diwariskan pendahulu mereka. Terkhusus
bagi Mahasiswa Muslim yang harus selalu sedia menjadi penerus Panji-panji Jihad
Rasulullah tentunya tak ada pilihan lain selain berpegang teguh pada Al-Qur’an
dan Sunnah, termasuk dalam berekonomi.
Banyak
peran yang dapat dimainkan oleh Mahasiswa Muslim dalam berekonomi dan alangkah
lebih baiknya jika mereka bisa memadukan semuanya.
Peran Pertama yakni sebagai Pionir.
Dalam
hal ini Mahasiswa yang tentunya mewakili semangat Muda-mudi Islam masa kini
berperan sebagai orang yang “Take Action”. Mahasiswa dituntut untuk bisa
mandiri dalam berekonomi. Mengelola keuangan tanpa Riba, menegakkan dan amanah
terhadap Zakat dan Shodaqoh, Rikaz, dan Waqaf.
Mahasiswa
yang mandiri adalah mahasiswa yang tidak terlalu berharap pada Orang tuanya.
Mahasiswa dituntut untuk menjadi Entrepreunership disamping kewajibannya
menuntut ilmu. Jualan sambil dagang??? Bukan tidak mungkin. Ada banyak hal yang
dapat dijual oleh mahasiswa namun juga menebar pahala. Contoh kecil adalah
mahasiswa yang berjualan Hijab, Buku-buku agama, Alat-alat sholat. Itu hanyalah
contoh kecil. Contoh besar tentunya dengan mengadakan seminar akbar ekonomi
Syariah dengan mengundang motivator-motivator hebat yang diharapkan dari hal
ini dapat menelurkan pemikiran-pemikiran hebat terhadap mahasiswa itu sendiri
dan diteruskan sampai kepada masyarakat.
Dalam
kehidupan sehari-hari juga tentunya Mahasiswa juga tidak bisa dilepaskan dari
aktivitas berekonomi seperti, Jual-beli, Utang-piutang,Sewa-menyewa hingga
menyimpan uang di Bank. Dalam hal yang menyangkut Riba, tentunya mahasiswa yang
cerdas tahu betul bahwa Riba itu adalah haram oleh karena itu alangkah baiknya
jika dalam kehidupan sehari seperti halnya hutang-piutang atau jual beli
mahasiswa tidak meletakkan Riba kedalamnya. Dalam menabung Uang ke Bank
hendaknya lebih memilih menabung di Bank-Bank yang berbasis Syari’ah ketimbang
Bank-Bank Umum walaupun sebenarnya Bank itu sendiri sebenarnya adalah bagian
dari Riba juga. Namun secara Umum masyarakat saat ini lebih suka menyimpan uang
di bank ketimbang menyimpan secara Pribadi. Nah,
Untuk kasus seperti ini sebaiknya kita berpegang pada sabda Nabi sebagai
berikut.
“Jika kau dihadapkan dalam 2 pilihan yang buruk maka
pilihlah diantara kalian 1 pilihan yang kadar Mudharatnya jauh lebih sedikit”
Tentunya sebagai
manusia cerdas dan berakhlaq kita akan memilih pada Bank Syariah. Paling tidak
konsep dasar nilai-nilai Islam masih ada dalam Bank Syariah.
Dalam
hal tanggung jawab. Tentunya sudah kewajiban bagi setiap manusia untuk
menyalurkan Zakat dan Sedekah. Pada Zaman Rasulullah Zakat merupakan salah satu
penerimaan terbesar buat pemerintahan Rasulullah. Jika dalam lingkup
kemahasiswaan saja kita sudah mampu menyikapi Zakat dan sedekah secara serius,
Bayangkan saja masa depan Indonesia mungkin akan lebih cerah dan tidak selalu
berharap terhadap penerimaan pajak dan Cukai tembakau sebagai penerimaan
terbesar Negara yang sesungguhnya rawan Mudharat.
Zakat dan
pajak merupakan dua hal yang penting dan tidak dapat dipungkiri keberadaannya
dalam kehidupan masyarakat sehingga timbul permasalahan mengenai hal mana yang
harus lebih diutamakan. Zakat adalah wajib bagi Muslim sementara pajak????
Pajak sebenarnya diwajibkan bagi orang-orang non muslim
kepada pemerintahan Islam sebagai jaminan keamanan. Maka saat pajak dibebani
untuk orang Islam, banyak ulama yang menentangnya namun ada juga yang
membolehkannya tentunya dengan syarat. Diantara ulama yang membolehkan
pemerintahan Islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah Imam Ghozali, Imam
Syatibi dan Imam Ibnu Hazm. Mereka berpendapat bahwa jika Negara sangat
membutuhkan dana maka Negara boleh memungut pajak dari kaum muslimin.
"Sesungguhnya
pada harta ada kewajiban/hak (untuk dikeluarkan) selain zakat."
( HR Tirmidzi, no: 595 dan Darimi, no : 1581, di dalamnya ada rawi
: Abu Hamzah ( Maimun ), menurut Ahmad bin Hanbal dia adalah dho’if hadist, dan
menurut Imam Bukhari : dia tidak cerdas )
Ulama
yang ilmunya tentu sudah tidah dapat diragukan lagi dalam hal ini saja masih
bisa berbeda pendapat. Toh, dengan
kita yang sesungguhnya masih awam. Oleh
karena itu dibutuhkan lebih dari Mahasiswa cerdas untuk menyikapi gejolak yang
tiada akhir di masa mendekati akhir Zaman ini. Dibutuhkan Mahasiswa Berakhlaq
agar dapat membedakan yang Haq dan Bathil dalam kehidupan sehari-hari. Namun
yang terpenting dalam perekonomian Islam, “Jalankan
Zakatmu!!” karena itu wajib bagi setiap Muslim yang hidup.
Peran
Kedua yakni sebagai Da’i.
Sebagai
generasi yang sangat dibanggakan oleh Baginda Rasulullah, Jalan Dakwah yang
merupakan warisan Rasulullah wajib kita teruskan tak terkecuali dalam kegiatan
ekonomi.
“Sampaikanlah Ilmuku walau hanya 1 ayat”
Di
Masa lalu kita punya Ibnu Khaldun dan tentunya Rasulullah yang berperan sebagai
Tokoh ekonomi namun juga seorang Da’i. Di masa sekarang ini khususnya di
Indonesia kita punya Bapak Al-Ustadz Yusuf Mansur sebagai tokoh Ekonomi yang
berperan sebagai Mubaligh juga. Mahasiswa yang merupakan sosok Intelek
khususnya yang akrab dengan perkuliahan masalah ekonomi tentunya harus bisa
memahami masalah dengan cerdas terkait ekonomi konvesional dan memadukannya
atau malah mengganti jika ada yang keliru dengan Ekonomi Syariah. Bagaimana
caranya??? Jawabannya adalah dengan Dakwah. Dakwah yang paling popular dikalangan
Mahasiswa adalah dengan menulis. Sahabat,Menantu,sekaligus Sepupu Nabi Muhammad
pernah berkata “Jika kau memiliki Ilmu
maka tulislah ia, agar ia abadi”. Dalam menulis khususnya mengenai Ekonomi
Syariah yang kebanyakan berlandaskan pada Fiqh, mahasiswa tidak boleh hanya berkutat
pada 1 referensi saja. Jangan sampai Ilmu yang tujuannya untuk memberi
pencerahan malah menghadirkan perselisihan.
Selain
Menulis, banyak hal lainnya seperti aktif langsung dalam kegiatan Tabligh Akbar
atau seminar yang membahas Khusus mengenai masalah perekonomian Syariah. Dengan
begitu diharapakan Mahasiswa juga dapat menjadi lintas dakwah secara langsung
dengan menjadi paling tidak motivator dalam berekonomi syariah dalam keluarga
dan teman-temannya.
Di
Zaman yang serba canggih ini, Lintas Dakwah semakin kreatif. Dakwah dapat
dilakukan lewat SosMed atau juga dapat melalui Spanduk dan poster-poster yang
dapat langsung menggaungkan Syiar Islam langsung kepada mereka yang melihat.
Peran
ketiga yakni sebagai Penyeimbang
Mahasiswa
harus bisa menularkan rasa optimis dan Idealis. Perekonomian Islam harus bisa
berkembang di tengah sekulerisasi dalam perekonomian dunia. Mahasiswa tidak
bisa lengah sedikitpun menghadapi gelombang arus globalisasi yang terus
menghadang. Ancaman ekonomi Kapitalis yang bersumber pada keuntungan Pribadi
dan ekonomi komunis yang bersumber dimana hak milik perseorangan tidaklah
diakui, adalah 101 % salah besar. Dalam ekonomi Islam tidak ada sedikitpun yang
dirugikan. Jikapun ia tidak Untung paling tidak ia tidak rugi.
Semua Kerugian Dikembalikan
kepada Harta dan Pemiliknya, Sementara Keuntungan Milik Kedua Belah Pihak. Begitulah Prinsip Ekonomi Islam. Alangkah
beruntungnya menjadi Umat Muhammad. Tidak ada ruginya sama sekali menjadi Umat
Islam. Untuk itu, Prinsip-prinsip Khilafah Islamiyah perlu ditegakkan kembali
agar bukan hanya perekonomian umat Islam saja yang stabil namun dunia secara
keseluruhan.
Ketiga contoh diatas sebenarnya adalah beberapa
contoh kecil dalam berekonomi Syariah. Banyak lagi hal yang dapat dilakukan
oleh Mahasiwa guna menelurkan Generasi Emas Syariah yang bebas Riba. Apapun
Jalan yang kita ambil untuk mendapat kekayaan pastikan jalan itu adalah jalan
yang halal. Pastikan Langkah yang kita ambil tidak hanya menjadikan manusia
yang sukses di dunia namun juga sukses di akhirat. Pastikan kita meraih
Surga-Nya bersanding dengan tokoh-tokoh hebat di masa lalu. Jadilah “The
Perfect Muslim”. Tegakkan Khilafah! Dan jadilah “Generasi Emas Tanpa Riba”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar