counters

Minggu, 29 Maret 2015

Mati-matian mengejar yang tidak dibawa mati!!!

27 maret 2015, Dunia Entertainment Indonesia berduka. Salah satu asset berharganya yakni Yoga Syahputra atau yang lebih dikenal dengan nama Olga menghembuskan nafas terakhirnya di salah satu rumah sakit di Singapura. Olga meninggal diduga akibat penyakit meningitis atau radang selaput otak yang telah dideritanya selama lebih dari 1 tahun. Kelelahan akibat jadwal syuting yang padat menjadi penyebab utama kenapa Olga bisa mengidap penyakit Meningitis. Namun apa yang selama ini diperjuangkan Olga sampai akhir hayatnya tidak ada sepeserpun yang ia bawa ke liang lahat.
Wahai saudaraku, sadarkah kita????
Berapa banyak waktu yang sudah kita sia-siakan demi mengejar kekayaan???
Wahai saudarkau, sadarkah kita?????
Harta yang kita kumpulkan mati-matian itu tak satupun dibawa mati????
Mati-matian mengejar hal yang tak dibawa mati. Begitulah Manusia. Kodrat manusia tak dipungkiri adalah menguasai. Ketamakan seakan sudah mendarah daging di setiap Putra-putri Adam. Tak ada salahnya memang mengejar kekayaan, bahkan Rasulullah juga menganjurkan Umatnya untuk mencari Rezeki di Dunia selama ia Mampu dan yakin jika apa yang diperjuangkannnya tidak membuat ia lupa untuk bersyukur. Bahkan Allah SWT suka dengan hambanya yang pergi keluar dari rumahnya untuk mencari rezeki. Seperti dalam sabda Rasulullah :
"Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami). 
                                                                                                                              
Namun alangkah bejatnya jika kita kufur. Kita mungkin pernah mendengar kisah tentang Sa’labah. Seorang Fakir yang didoakan oleh Rasulullah agar rezekinya dicukupkan oleh Allah SWT. Hingga kekayaan menghampirinya namun ia lupa jika apa yang telah diperjuangkannya adalah karena nikmatnya Allah. Ia menolak untuk menyumbangkan sebagian hartanya kepada yang membutuhkan hingga ajal menjemputnya. Atau juga kita pernah mendengar nama Qarun, sepupu Nabi Musa yang sangat kaya namun akibat kekikirannya ia beserta dirinya ditenggelamkan ke dalam bumi. Mereka adalah beberapa contoh kecil dari orang-orang yang menolak untuk menyisihkan hartanya sehingga ketika mereka mati tak ada satupun tabungan yang mereka bawa buat menuju kematian mereka.

Pertanyaanya adalah, sudah berapa banyak Harta yang kita perjuangkan mati-matian itu kita sumbangkan??? Kita tahu salah satu amalan yang tak terputus itu adalah sedekah Jariyah, sehingga ketika kita matipun amalan itu akan terus mengalir. Alangkah indahnya hidup seorang Abdurrahman Bin A’uf dan juga Utsman Bin Affan, Mereka dianugerahkan oleh Allah SWT sebuah aliran kekayaan yang tiada henti mengalir. Namun berkat Kesholehan dan sifat Kehambaan 2 sahabat mulia tersebut, mereka rela untuk menyumbang lebih dari separuh harta mereka untuk membantu Dakwah Rasulullah. Begitulah 2 sahabat mulia ini hingga mereka dimuliakan oleh Allah menjadi salas satu dari 10 sahabat Nabi yang dijanjikan Surga
maka benarlah sabda Nabi Muhammad saw: 

“Hai anak Adam! Sesungguhnya jika kamu memberi dari kelebihan hartamu adalah baik bagimu, dan buruk bagimu jika kamu menahannya, engkau tidak akan dicela selama kamu tidak meminta-minta, mulailah bersedekah kepada keluargamu, dan tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah.” (Hadits riwayat Muslim dari Abu Umamah bin ‘Ijlan ra.)


Mencari nafkah itu pekerjaan  terhormat dan pekerjaan para Nabi Allah. Ia membangun kemuliaan karena tidak mengemis, dan besar kemungkinan ia dapat memberi dan membantu orang lain, walaupun ia seorang penjual es, atau pandai besi seperti Nabi Daud, atau pedagang seperti Nabi Muhammad, tidak ada salahnya asal rezeki itu halal dan manusianya bersyukur. Walaupun selama ini jarang kita lihat ada orang kaya yang tidak bahagia, namun ingatlah bahwa kebahagiaan tidak selamanya selalu diukur dengan kekayaan. Ada beberapa factor lain yang dapat diukur apakah seorang Manusia itu bahagia atau tidak.
 
Contohnya adalah nikmat kesehatan. Tak ada gunanya kita kaya jika sakit-sakitan. Emas dan berlian pun seakan tak ada manfaatnya jika megejarnya tanpa memperhatikan kesehatan diri.
Selanjutnya adalah Nikmat Silaturahim. Allah menciptakan setiap manusia saling bersaudara satu sama lainnya. Sering-seringlah berkunjung ke sanak saudara, baik saudara dekat maupun saudara jauh, karena silaturahmi akan melancarkan pintu rezeki bagi setiap umat yang menjalaninya. Rasulullah SAW bersabda:
 
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rejekinya, atau ditunda umurnya, maka hendaknya ia bersilaturahmi” (muttafaqun ‘alaih)
 

Itu hanyalah beberapa contoh kecil penentu kebahagian hidup. Tak ada salahnya memang setiap manusia itu untuk bekerja keras untuk memperjuangkan kemakmuran hidupnya. Namun alangkah buruknya jika kita melakukannya secara berlebihan dan kelewat batas. Meskipun batasan setiap manusia itu berbeda satu dengan yang lainnya. Segala sesuatu yang berlebihan itu akan meninggalkan Mudharat bagi setiap pelakunya. Sesuatu yang instan itu jarang bertahan lama, ataupun sering mengalami kegagalan. So, carilah rezeki itu dengan hati yang tulus, ikhlas, dan senang. Janganlah terlalu berambisi, karena orang yang sangat berambisi cenderung dapat berbelok ke jalan yang tidak benar dan menghalalkan segala cara. Dan jangan lupa sisihkanlah apa yang kau perjuangkan mati-matian itu!, sehingga walaupun secara harfiah ia tidak kau bawa mati paling tidak ia menimbulkan manfaat yang berguna buat pertanggungjawabanmu setelah kau mati. (Hans)

Kamis, 26 Maret 2015

Seandainya Islam bersatu!!!

Seandainya Muslim bersatu. Ah..Itulah yang terlintas di benak kita sekarang ini. Tak tega rasanya harga diri ini diinjak terus-terusan. Berbagai kekacauan melanda dunia Islam kini namun tak ada satupun dari kita yang acuh. Semua hanya karena kepentingan semu semata. Tangisan dan jeritan memekikkan dari Gaza dan Suriah pun diabaikan oleh penguasa Zalim yang seakan tak lelah menyumbang Minyak buat Si Musuh.

Seandainya saja Kekhalifahan Ustmani tidak jatuh ke tangan kotor Barat sekuler itu, mungkin saja peradaban Islam yang telah diperjuangkan Rasul dan sahabat akan tetap lekang hingga kini. Tak ada yang namanya tangisan. Yang ada hanya tawa manis dari anak kecil yang sedang diantar ayahnya menuju sekolah. Tak ada ratapan, yang ada hanya senyuman. Senyuman yang muncul melihat jayanya dunia Islam.

Tapi apalah guna meratapi nasib. Muslim saat ini pecah! Tidak ada lagi kehidupan 1001 Malam Ala kota Baghdad di Zaman Khalifah Harun Al-Rasyid. Tidak ada lagi kita saksikan lahirnya Ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti di Zaman kekhalifahan Andalus. Tidak ada lagi kita saksikan jayanya perdagangan Islam seperti halnya di Islambol dulu. Yang ada hanyalah kekacauan disana-sini. Pemimpin amanah digulingkan namun yang Munafik diagungkan. Orang berjenggot di cap teroris sementara yang setengah telanjang jadi artis. Ke Mesjid dianggap cupu sementara ke diskotik dianggap gaul. Kiranya begitulah gambaran rusaknya moral kita saat ini. Kita terperdaya dan termakan konspirasi yang dibuat oleh kaum sekuler.

Seandainya ISLAM bersatu saja dari sekarang juga. Mungkin Yahudi yang jumlahnya tak lebih dari 1 juta akan kalah. cobalah renungkan wahai sahabatku!!! ISLAM di Dunia ada berapa? lebih dari 1 Milyar banyaknya. namun kita kalah dengan yang hanya sekitar 1 juta-an itu.... kenapa? karena mereka bersatu, sedangkan kita malah bercerai berai. Disaat mereka sukses dengan konspirasi dan misionaris kita malah saling mengkafirkan. Yang tak sesuai dengan tujuan golongannya di cap kafir. sering sekali akibat perbedaan pemahaman, sering terucap kata atau kalimat "Kaulah 'kafir' Sesungguhnya". Padahal sudah seharusnya kita mengislamkan yang kafir bukan malah mengkafirkan yang Islam.

Di Indonesia???? Ah sudahlah…..!!! hanya karena penentuan jadwal Ramadhan saja kita bertengkar bagaimana mau melihat umat Islam di negara ini maju??? Kita tahu ada banyak ormas dan golongan yang mengatasanamakan Islam di Indonesia…..sebut saja Muhammaddiyah,NU,PKS,HTI,dan lain-lain. Namun masih sulit bagi mereka untuk dapat bersatu. Disaat mereka masih berdebat dan saling menunjukkan mana diantara mereka yang terbaik. Disaat itu juga muncul golongan pengganggu dan munafik dari kalangan Syiah,Liberal,ataupun Khawarij.

Begitulah wahai sahabatku yang dinginkan oleh baginda Rasulullah SAW. Umat Islam bersatu. Jika saja apa yang dikatakan saudara kita diatas menjadi kenyataan. Tidak perlu kita lihat pemimpin kafir memimpin negeri ini ataupun melihat demo sana karena kezaliman dari penguasa rakus pemakan uang rakyat.

Umat islam ini seperti sebuah Puzzle yang kalo digabungkan bagian demi bagiannya maka barulah menjadi satu gambaran yang utuh dan saling melengkapi. Jika Puzzle itu sudah bisa digabungkan, maka tak perlulah lagi kita takut akan kebengisan Si Musuh.

Bersatu bukan berarti kita harus menunggu dulu IMAM MAHDI turun dulu. Bersatunya umat Islam akan muncul dengan sendirinya jika kita memiliki hati yang luas, seluas hatinya Hasan Bin Ali. Akan muncul jika kita memiiliki sikap yang sabar, sesabar Umar bin Abdul Aziz. Akan muncul jika kita memiliki jiwa ksatria yang kuat, Sekuat Muhammad Al-fatih. Dan pastinya akan muncul jika kita memiliki Iman yang sempurna, sesempurna Imannya Baginda Rasulullah SAW.

Mari kita hapus air mata saudara kita di Gaza dan Suriah,mari kita hapus kelaparan di bumi Somalia,mari kita hapus perpecahan di hati kita. Mari Bersatu Sahabat Semuanya. dan mari Lawan Keterpurukan ini. Singkirkan ego dan jadilah Khalifah sejati.


Ah…..seandainya saja Umat Islam bersatu! (Hans)