27 maret
2015, Dunia Entertainment Indonesia berduka. Salah satu asset berharganya yakni
Yoga Syahputra atau yang lebih dikenal dengan nama Olga menghembuskan nafas
terakhirnya di salah satu rumah sakit di Singapura. Olga meninggal diduga
akibat penyakit meningitis atau radang selaput otak yang telah dideritanya
selama lebih dari 1 tahun. Kelelahan akibat jadwal syuting yang padat menjadi
penyebab utama kenapa Olga bisa mengidap penyakit Meningitis. Namun apa yang
selama ini diperjuangkan Olga sampai akhir hayatnya tidak ada sepeserpun yang
ia bawa ke liang lahat.
Wahai
saudaraku, sadarkah kita????
Berapa
banyak waktu yang sudah kita sia-siakan demi mengejar kekayaan???
Wahai
saudarkau, sadarkah kita?????
Harta yang
kita kumpulkan mati-matian itu tak satupun dibawa mati????
Mati-matian
mengejar hal yang tak dibawa mati. Begitulah Manusia. Kodrat manusia tak
dipungkiri adalah menguasai. Ketamakan seakan sudah mendarah daging di setiap
Putra-putri Adam. Tak ada salahnya memang mengejar kekayaan, bahkan Rasulullah
juga menganjurkan Umatnya untuk mencari Rezeki di Dunia selama ia Mampu dan
yakin jika apa yang diperjuangkannnya tidak membuat ia lupa untuk bersyukur.
Bahkan Allah SWT suka dengan hambanya yang pergi keluar dari rumahnya untuk
mencari rezeki. Seperti dalam sabda Rasulullah :
"Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat
hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami).
Namun alangkah bejatnya jika kita
kufur. Kita mungkin pernah mendengar kisah tentang Sa’labah. Seorang Fakir yang
didoakan oleh Rasulullah agar rezekinya dicukupkan oleh Allah SWT. Hingga
kekayaan menghampirinya namun ia lupa jika apa yang telah diperjuangkannya
adalah karena nikmatnya Allah. Ia menolak untuk menyumbangkan sebagian hartanya
kepada yang membutuhkan hingga ajal menjemputnya. Atau juga kita pernah
mendengar nama Qarun, sepupu Nabi Musa yang sangat kaya namun akibat
kekikirannya ia beserta dirinya ditenggelamkan ke dalam bumi. Mereka adalah
beberapa contoh kecil dari orang-orang yang menolak untuk menyisihkan hartanya
sehingga ketika mereka mati tak ada satupun tabungan yang mereka bawa buat
menuju kematian mereka.
Pertanyaanya adalah, sudah berapa
banyak Harta yang kita perjuangkan mati-matian itu kita sumbangkan??? Kita tahu
salah satu amalan yang tak terputus itu adalah sedekah Jariyah, sehingga ketika
kita matipun amalan itu akan terus mengalir. Alangkah indahnya hidup seorang
Abdurrahman Bin A’uf dan juga Utsman Bin Affan, Mereka dianugerahkan oleh Allah
SWT sebuah aliran kekayaan yang tiada henti mengalir. Namun berkat Kesholehan
dan sifat Kehambaan 2 sahabat mulia tersebut, mereka rela untuk menyumbang
lebih dari separuh harta mereka untuk membantu Dakwah Rasulullah. Begitulah 2
sahabat mulia ini hingga mereka dimuliakan oleh Allah menjadi salas satu dari
10 sahabat Nabi yang dijanjikan Surga
maka benarlah sabda
Nabi Muhammad saw:
“Hai
anak Adam! Sesungguhnya jika kamu memberi dari kelebihan hartamu adalah baik
bagimu, dan buruk bagimu jika kamu menahannya, engkau tidak akan dicela selama
kamu tidak meminta-minta, mulailah bersedekah kepada keluargamu, dan tangan di
atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah.” (Hadits riwayat Muslim
dari Abu Umamah bin ‘Ijlan ra.)
Mencari nafkah itu
pekerjaan terhormat dan pekerjaan para Nabi Allah. Ia membangun kemuliaan
karena tidak mengemis, dan besar kemungkinan ia dapat memberi dan membantu
orang lain, walaupun ia seorang penjual es, atau pandai besi seperti Nabi Daud,
atau pedagang seperti Nabi Muhammad, tidak ada salahnya asal rezeki itu halal
dan manusianya bersyukur. Walaupun selama ini jarang kita lihat ada orang kaya
yang tidak bahagia, namun ingatlah bahwa kebahagiaan tidak selamanya selalu
diukur dengan kekayaan. Ada beberapa factor lain yang dapat diukur apakah
seorang Manusia itu bahagia atau tidak.
Contohnya adalah nikmat
kesehatan. Tak ada gunanya kita kaya jika sakit-sakitan. Emas dan berlian pun
seakan tak ada manfaatnya jika megejarnya tanpa memperhatikan kesehatan diri.
Selanjutnya adalah Nikmat
Silaturahim. Allah menciptakan setiap manusia saling bersaudara satu sama
lainnya. Sering-seringlah berkunjung ke sanak saudara, baik saudara dekat maupun
saudara jauh, karena silaturahmi akan melancarkan pintu rezeki bagi setiap umat
yang menjalaninya. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rejekinya, atau ditunda
umurnya, maka hendaknya ia bersilaturahmi” (muttafaqun ‘alaih)
Itu hanyalah beberapa contoh kecil
penentu kebahagian hidup. Tak ada salahnya memang setiap manusia itu untuk
bekerja keras untuk memperjuangkan kemakmuran hidupnya. Namun alangkah buruknya
jika kita melakukannya secara berlebihan dan kelewat batas. Meskipun batasan
setiap manusia itu berbeda satu dengan yang lainnya. Segala sesuatu yang
berlebihan itu akan meninggalkan Mudharat bagi setiap pelakunya. Sesuatu yang instan itu jarang bertahan lama, ataupun sering mengalami
kegagalan. So, carilah rezeki itu dengan hati yang tulus, ikhlas, dan senang.
Janganlah terlalu berambisi, karena orang yang sangat berambisi cenderung dapat
berbelok ke jalan yang tidak benar dan menghalalkan segala cara. Dan jangan
lupa sisihkanlah apa yang kau perjuangkan mati-matian itu!, sehingga walaupun
secara harfiah ia tidak kau bawa mati paling tidak ia menimbulkan manfaat yang
berguna buat pertanggungjawabanmu setelah kau mati. (Hans)