Khalifah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khalifah Umayyah,
dimana pendiri dari khalifah ini adalah keturunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad
saw, yaitu Abullah al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn al-Abbas.
Dimana pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan
politik, sosial dan budaya. Kekuasaan Bani Abbasiyah selama kurang lebih 500
tahun, yakni antara tahun 132 H (750M) sampai dengan 656 H (1258M). Abu
al-Abbad al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas.
Pemikiran ekonomi pada Masa Bani Abbasiyah yakni, dikenalnya istilah Jihbiz, kata Jihbiz
berasal dari bahasa Persia yang berarti penagih pajak. Istilah Jihbiz mulai
dikenal pada masa Muawiyah, akan tetapi fungsi dari Jihbiz tersebut bertambah
dengan menerima jasa penukaran uang. Karena pada zaman tersebut diperkenalkan
uang jenis baru yang disebut fulus yang terbuat dari tembaga. Sebelumnya uang
yang digunakan adalah dinar (terbuat dari emas) dan dirham (terbuat dari
perak).
Berikut adalah beberapa khalifah pada masa Bani Abbasiyah yang
berperan dalam perekonomian, diantaranya :
1.
Abu Ja’far Al-Mansur
Beliau memerintahkan dalam waktu yang singkat. Tetapi pada masa
pemerintahannya, beliau banyak melakukan konsolidasi dan penerbitan
administrasi birokrasi. Ia menciptakan tradisi baru dibidang pemerintahan
dengan mengangkat seorang wazir sebagai coordinator departemen. Beliau juga
membentuk lembaga protokol negara, seketaris negara, kepolisian negara serta
membenahi angkatan bersenjata dan membentuk lembaga kehakiman negara.
Dalam mengendalikan harga-harga, khlaifah al-Mansur memerintahkan
para jawatan pos untuk melaporkan harga pasaran dari setiap bahan makanan dan
barang lainnya. Khalifah al-Mansur sangat hemat dalam membelanjakan harta
Baitul Maal, hal ini terbukti ketika beliau wafat, kekayaan kas negara telah
mencapai 810 juta dirham.
2. Al-Mahdi
Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan
di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti
perak, emas, tembaga dan besi. Selain itu, perdagangan antar transit timur dan
barat yang banyak membawa kekayaan.
Beliau banyak menerapkan kebijakan yang menguntungkan rakyat
banyak. Seperti membangun tempat-tempat persinggahan para musaffir haji,
membuat kolam-kolam air bagi para khalifah dagang beserta hewan bawaannya dan
memperbanyak jumlah telaga dan perigi. Beliau juga mengembalikan harta yang
dirampas oleh ayahnya kepada pemiliknya masing-masing.
3. Harun al-Rasyid
Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah
Harun al Rasyid dan putranya al-Ma’mun. Kesejahteraan sosial, kesehatan,
pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusasteraan berada dalam
zaman keemasan.
Pada masa ini pertumbuhan ekonomi berkembang dengan pesat dan kemakmuran
Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya. Beliau membangun Baitul Maal untuk
mengurus keuangan negara dengan menunjuk seorang Wazir yang mengepalai beberapa
diwan. Pendapatan Baitul Maal dialokasikan untuk riset ilmiah dan penerjemahan
buku-buku Yunani, disamping itu juga digunakan untuk biaya pertahanan dan
anggaran rutin pegawai.
Selain itu, Khalifah Harun juga sangat memperhatikan masalah
perpajakan, sehingga beliau menunjuk Abu Yusuf untuk menyusun sebuah kitab
pedoman mengenai aturan perekonomian syari’ah yang mana kitabnya berjudul
al-Kharaj.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar