counters

Senin, 01 Juli 2019

Kebijakan Ekonomi Islam pada masa Dinasti Abbasiyah


Khalifah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khalifah Umayyah, dimana pendiri dari khalifah ini adalah keturunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw, yaitu Abullah al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn al-Abbas. Dimana pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Kekuasaan Bani Abbasiyah selama kurang lebih 500 tahun, yakni antara tahun 132 H (750M) sampai dengan 656 H (1258M). Abu al-Abbad al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas.

Pemikiran ekonomi pada Masa Bani Abbasiyah yakni,  dikenalnya istilah Jihbiz, kata Jihbiz berasal dari bahasa Persia yang berarti penagih pajak. Istilah Jihbiz mulai dikenal pada masa Muawiyah, akan tetapi fungsi dari Jihbiz tersebut bertambah dengan menerima jasa penukaran uang. Karena pada zaman tersebut diperkenalkan uang jenis baru yang disebut fulus yang terbuat dari tembaga. Sebelumnya uang yang digunakan adalah dinar (terbuat dari emas) dan dirham (terbuat dari perak).
Berikut adalah beberapa khalifah pada masa Bani Abbasiyah yang berperan dalam perekonomian, diantaranya :

1.      Abu Ja’far Al-Mansur

Beliau memerintahkan dalam waktu yang singkat. Tetapi pada masa pemerintahannya, beliau banyak melakukan konsolidasi dan penerbitan administrasi birokrasi. Ia menciptakan tradisi baru dibidang pemerintahan dengan mengangkat seorang wazir sebagai coordinator departemen. Beliau juga membentuk lembaga protokol negara, seketaris negara, kepolisian negara serta membenahi angkatan bersenjata dan membentuk lembaga kehakiman negara.

Dalam mengendalikan harga-harga, khlaifah al-Mansur memerintahkan para jawatan pos untuk melaporkan harga pasaran dari setiap bahan makanan dan barang lainnya. Khalifah al-Mansur sangat hemat dalam membelanjakan harta Baitul Maal, hal ini terbukti ketika beliau wafat, kekayaan kas negara telah mencapai 810 juta dirham.

2.     Al-Mahdi

Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Selain itu, perdagangan antar transit timur dan barat yang banyak membawa kekayaan.

Beliau banyak menerapkan kebijakan yang menguntungkan rakyat banyak. Seperti membangun tempat-tempat persinggahan para musaffir haji, membuat kolam-kolam air bagi para khalifah dagang beserta hewan bawaannya dan memperbanyak jumlah telaga dan perigi. Beliau juga mengembalikan harta yang dirampas oleh ayahnya kepada pemiliknya masing-masing.


3.     Harun al-Rasyid

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun al Rasyid dan putranya al-Ma’mun. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusasteraan berada dalam zaman keemasan.

Pada masa ini pertumbuhan ekonomi berkembang dengan pesat dan kemakmuran Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya. Beliau membangun Baitul Maal untuk mengurus keuangan negara dengan menunjuk seorang Wazir yang mengepalai beberapa diwan. Pendapatan Baitul Maal dialokasikan untuk riset ilmiah dan penerjemahan buku-buku Yunani, disamping itu juga digunakan untuk biaya pertahanan dan anggaran rutin pegawai.

Selain itu, Khalifah Harun juga sangat memperhatikan masalah perpajakan, sehingga beliau menunjuk Abu Yusuf untuk menyusun sebuah kitab pedoman mengenai aturan perekonomian syari’ah yang mana kitabnya berjudul al-Kharaj.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar