counters

Selasa, 02 Juli 2019

Penyebab Runtuuhnya Turki Utsmani


Kemunduran Turki Utsmani terjadi sejak pemerintahan Sultan Muhammad III (1594). Namun, sebagai negara yang besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat, karena masih ada usaha para Sultan dalam menyelamatkan negara, tetapi keadaan ini sangat mengganggu pola kehidupan Daulah Utsmaniyah. Setelah itu pemerintahannya dilanjutkan oleh 19 orang Sultan Turki Utsmani sampai berdirinya Republik Turki. Namun, kekuasaan para sultan tersebut tidak sebesar dan sekuat sultan-sultan sebelumnya.

Dalam 88 tahun berikutnya (1595-1683) Turki Utsmani tidak hanya menderita kerugian teritorial, tetapi daerah penaklukan mereka diambil alih. Pada saat di bawah pimpinan Sultan Murad IV, Kesultanan tampaknya menghidupkan kembali kemegahan yang telah dicapai di bawah Sultan Sulaiman. Namun, penampilan eksternal ini menipu, benih disintegrasi menyerang struktur dalam negara dengan hasil yang menjadi nyata dalam abad berikutnya. Bencana melanda Daulah Utsmaniyah antara 1683 dan 1699 atau dalam 16 tahun, yang diikuti kegagalan upaya Turki Utsmani kedua untuk menyerbu Wina.

Faktor Kemunduran Turki Utsmani: Ekonomi yang Semakin Melemah

Keberhasilan Portugal dan Spanyol untuk menemukan jalan perdagangan dunia ke Asia, telah menjadi titik awal kebangkitan Eropa. Mereka berhasil merebut rute, pangsa pasar dan sumber bahan baku perdagangan dunia. Usaha mereka semakin mengakar kuat dengan keberhasilan mereka menjajah dan memonopoli kekayaan dunia Islam yang sangat kaya. Hal ini mengakibatkan kemiskinan dan kemunduran ekonomi yang berat di dunia Islam.

Ketika Sultan Abdul Aziz menjadi Sultan Turki Utsmani pada tahun 1861, para sultan terdahulu telah meninggalkan hutang Negara sebanyak 15 juta Pound Steling. Pada tahun itu pula, utang Negara membengkak menjadi 103 juta Franc.

Pada tahun 1870-1880, Daulah Utsmaniyah mengalami krisis ekonomi berkepanjangan, untuk menutupinya Turki Utsmani harus berhutang kepada Inggris dimana Inggris mensyaratkan pendirian bank-bank Inggris di Istanbul dan lembaga pengawas keuangan Inggris.

Faktor Kemunduran Turki Utsmani: Kelemahan Sains dan Agama

Dalam belenggu kehidupan akidah Murji’ah dan tarekat Sufi, dinilai wajar bila umat Islam mengalami kemunduran dan keterbelakangan yang parah dalam aspek agama dan sains. Tentang kemunduran bidang teknologi dan industri, Imam al-Ghazi dalam Nahr adz-Dzahab fi Tarikhi Halb menyebutkan, ketika telegraf pertama kali masuk kota Aleppo tahun 1278 H, masyarakat mengangapnya sebagai setan.

Faktor Kemunduran Turki Utsmani: Kelemahan Sosial dan Moral

Dekadensi moral yang sangat parah telah menggejala di seantero Dunia Islam. Penyalahgunaan harta wakaf untuk kepentingan memperkaya para pegawai wakaf, menjamurnya warung-warung khamar, rumah-rumah judi, minuman keras, dan pelacuran—Husain bin Muhammad Nashif bahkan menyebutkan kota suci Makkah telah ramai dengan warung-warung minuman keras dan pelacuran—, tenggelamnya masyarakat dalam musik dan nyanyian, dan aneka ragam kebejatan moral lainnya menjadi pemandangan umum di tengah masyarakat.

Berbagai akhlak mulia sudah dianggap sebagai sebuah tradisi kuno, kering dari nilai-nilai keimanan, dan setiap saat bisa ditinggalkan dengan alasan kemajuan zaman. Jilbab yang menjadi busana wanita Muslimah, misalnya, telah dianggap sebagai sekedar budaya setempat, dan manakala penjajah salibis Eropa datang dengan emansipasi wanitanya, dengan serta merta banyak yang melepaskan jilbabnya. (Ali bin Bukhait az-Zahrani, Al-Inhirafat, hlm. 798 dst)

Ustadz Abu al-Hasan Ali al-Hasani an-Nadawi juga menyebutkan bahwa industri pekapalan baru masuk ke Turki pada abad XVI M, percetakan, alat-alat medis, dan sekolah-sekolah militer baru masuk pada abad XVII M. pada abad-abad tersebut, Daulah Utsmaniyah sangat asing dari industri, teknologi, dan sains sehingga menganggap segala penemuan baru di bidang teknologi dan industri sebagai sihir. (Ali bin Bukhait az-Zahrani, Al-Inhirafat, hlm. 783-783)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar