Dimana Kita saat berusia 21 tahun??
Saat Usia 21 tahun, Lionel Messi Seorang pemuda kuntet asal Argentina meraih Ballon D'Or pertamanya. Yang pertama dari 5 yang telah ia raih saat ini. Bertahun-tahun setelahnya?? Mungkin namanya akan terus diingat sebagai salah satu pesepakbola terhebat sepanjang Masa.
Saat Usia 21 tahun, Mark Zuckerberg resmi meluncurkan Facebooknya, Bertahun-tahun setelahnya?? Facebook miliknya terus digandrungi semua lapisan Masyarakat (Mulai dari Artis sampai anak Alay sebagai salah satu sosial media paling populer Saat Usia 21 tahun, Seorang Pemuda kekar dari Kurdi sudah diangkat menjadi Panglima Perang sekaligus Wazir sang Sultan. Dialah Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi. Bertahun-tahun setelahnya?? Baitul Maqdis berhasil ia Bebaskan. Allahu Akbar
Saat Usia 21 tahun, seorang pemuda dari Istana Edirne menggantikan ayahnya, mewujudkan mimpi leluhurnya, membuktikan kehebatan dari Bisyarah Rasulullah SAW. Ia taklukkan benteng terkuat pada Masanya. Benteng Termahsyur yang menghubungkan dunia Barat dan Timur. Dialah Muhammad II Al-Fatih. Bertahun-tahun setelahnya?? Sejarah membuktikan Imperiumnya adalah salah satu yang terbesar dalam sejarah meski kini sudah runtuh. Allahu Akbar
Saat Usia 21 tahun pula, Seorang pengusaha Asal Arab menjadi seorang pesohor disana. Bukan karna Usaha yang dirintisnya Bersama Khadijah binti Khuwailid Sukses besar. Melainkan karna Pribadi Mulia yang Ia miliki. Ialah Muhammad, Rasulullah SAW. Bertahun-tahun setelahnya?? Rahmatan lil 'Alamin. Allahu Akbar Hari ini Usiaku tepat 20 Tahun. Hanya butuh satu tahun buat paling tidak menyamai orang-orang hebat diatas. Tapi aku bukanlah seorang Expert dalam sepakbola apalagi Komputer. Butuh Jiwa tak takut mati untuk menjadi panglima terbesar dalam sejarah. Butuh kecintaan pada Mati untuk menjadi seorang penakluk sekaligus raja. Oh iya, jangan lupakan darah bangsawan. Tapi untuk Pribadi yang terakhir, Jiwa ini memang tak akan mampu menyamai. Tapi Hidayah selalu ada untuk mengikuti. Jelas dalam pesan terakhirnya, Ia menyebut kita "Ummati, Ummati, Ummati". Tapi apakah Hidayah akan datang terhadap pribadi penuh dosa ini?? Sudah dimanakah Kita?
Dimana kita satu tahun ke depan??
Sabtu, 16 April 2016
Rabu, 06 Mei 2015
Berdakwah dulu atau memperbaiki dulu?
“eh sob…..ente sok berdakwah tapi hati ente udah benar
gak????”
Pertanyaan diatas memang sering membuat kesal para aktivis
dakwah apalagi mereka yang saat ini masih menginjak bangku kuliah. Para aktivis
dakwah seakan kena skak mat dengan
pertanyaan dari para objek dakwah mereka. Oke…mari
kita cermati pertanyaan diatas. Si penanya menanya sobatnya yang sedang
berdakwah, namun mungkin karena ia mungkin masih sulit menerima apa yang
dikatakan sobatnya muncullah pertanyaan diatas yang kurang lebih maksudnya
adalah……perbaiki dulu tuh diri sendiri
sebelum perbaiki hati orang lain.
Iya juga sih…..betul
tuh, sebaiknya perbaiki diri sendiri dulu sebelum perbaiki orang lain. Tapi
apakah sepenuhnya ia benar. Salah…..
Justru si aktivis dakwah itulah yang patut diacungi jempol.
Berdakwah itu wajib bagi setiap Muslim. Baik dia itu bejat atau konglomerat.
Semuanya memiliki kewajiban buat berdakwah. Sekarang coba kita cermati
dalam-dalam!!!!!
Apakah dulu para Ustadz dan para Kiai itu tak pernah berbuat
Khilaf atau mungkin bahkan berbuat bejat selama ia hidup????? Pasti pernah lah…..No One’s perfect!!!!
Tapi apa yang membuat para Ustadz dan Kiai itu menjadi orang
hebat padahal mereka pernah berbuat bejat. Mereka berdakwah. Bahkan dari Dakwah
itulah mereka berusaha untuk terus memperbaiki diri mereka hingga mereka
menjadi aktivis dakwah sesungguhnya. Setiap manusia yang telah berani menyampaikan wahyu-wahyu Allah
kepada orang lain tak dapat dipungkiri memiliki beban moral untuk dapat
melakukan apa yang telah mereka ajarkan pada orang lain. Mereka tak mau di cap Munafik. Mereka tak mau menempati
neraka paling dalam yang diciptakan oleh Allah SWT. Oleh karena itulah selain
mereka mengajarkan apa yang telah meraka ajarkan namun mereka juga
mengamalkannya itulah Aktivis Dakwah sesungguhnya.
Kembali ke pertanyaan awal! Dakwah dulu atau perbaiki diri
dulu????
Nah….jawaban
paling bijak menurut orang bijak adalah, lakukan keduanya berbarengan. Kita
mulai dari dakwah kepada diri sendiri. Lalu mulailah kepada orang lain. Jangan down jika kita dibilang “sok alim lu!!!”. Lanjutkan saja!!! Mau
sampai kapan anda menjadi Aktivis dakwah jika dengan pertanyaan seperti itu
saja sudah down. Rasulullah sendiri
di awal masa dakwah bahkan mengalami kejadian yang lebih parah, beliau
dilempari baru ataupun kotoran namun apakah Beliau mundur????
Beliau lanjut, Rasa Istiqomah yang tinggi dan semangat yang
membara membuat Dakwah Islam terus lanjut hingga saat ini kita mampu mengecap
Nikmat Islam yang tiada ukuran pembandingnya. Muhammad Bin Abdullah kini
menjadi salah satu orang paling hebat dalam sejarah manusia. Dari seseorang
yang dulu di cap penyihir kini
menjadi seorang pesohor.
Lalu apakah sikap kita????
Apakah mengalah saja atau
lanjut???? Itu terserah pada pilihan kita.
Namun yang pastinya tidak boleh dilupakan, Menjadi seorang aktivis dakwah berarti kita turut
serta membawa panji Islam. So….sahabatku,
Dakwah dan perbaiki juga diri mu. Termaksud penulis sendiri. Mari kita
sama-sama perbaiki diri kita dan jadilah aktivis Dakwah! (Hans)
Minggu, 29 Maret 2015
Mati-matian mengejar yang tidak dibawa mati!!!
27 maret
2015, Dunia Entertainment Indonesia berduka. Salah satu asset berharganya yakni
Yoga Syahputra atau yang lebih dikenal dengan nama Olga menghembuskan nafas
terakhirnya di salah satu rumah sakit di Singapura. Olga meninggal diduga
akibat penyakit meningitis atau radang selaput otak yang telah dideritanya
selama lebih dari 1 tahun. Kelelahan akibat jadwal syuting yang padat menjadi
penyebab utama kenapa Olga bisa mengidap penyakit Meningitis. Namun apa yang
selama ini diperjuangkan Olga sampai akhir hayatnya tidak ada sepeserpun yang
ia bawa ke liang lahat.
Wahai
saudaraku, sadarkah kita????
Berapa
banyak waktu yang sudah kita sia-siakan demi mengejar kekayaan???
Wahai
saudarkau, sadarkah kita?????
Harta yang
kita kumpulkan mati-matian itu tak satupun dibawa mati????
Mati-matian
mengejar hal yang tak dibawa mati. Begitulah Manusia. Kodrat manusia tak
dipungkiri adalah menguasai. Ketamakan seakan sudah mendarah daging di setiap
Putra-putri Adam. Tak ada salahnya memang mengejar kekayaan, bahkan Rasulullah
juga menganjurkan Umatnya untuk mencari Rezeki di Dunia selama ia Mampu dan
yakin jika apa yang diperjuangkannnya tidak membuat ia lupa untuk bersyukur.
Bahkan Allah SWT suka dengan hambanya yang pergi keluar dari rumahnya untuk
mencari rezeki. Seperti dalam sabda Rasulullah :
"Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat
hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami).
Namun alangkah bejatnya jika kita
kufur. Kita mungkin pernah mendengar kisah tentang Sa’labah. Seorang Fakir yang
didoakan oleh Rasulullah agar rezekinya dicukupkan oleh Allah SWT. Hingga
kekayaan menghampirinya namun ia lupa jika apa yang telah diperjuangkannya
adalah karena nikmatnya Allah. Ia menolak untuk menyumbangkan sebagian hartanya
kepada yang membutuhkan hingga ajal menjemputnya. Atau juga kita pernah
mendengar nama Qarun, sepupu Nabi Musa yang sangat kaya namun akibat
kekikirannya ia beserta dirinya ditenggelamkan ke dalam bumi. Mereka adalah
beberapa contoh kecil dari orang-orang yang menolak untuk menyisihkan hartanya
sehingga ketika mereka mati tak ada satupun tabungan yang mereka bawa buat
menuju kematian mereka.
Pertanyaanya adalah, sudah berapa
banyak Harta yang kita perjuangkan mati-matian itu kita sumbangkan??? Kita tahu
salah satu amalan yang tak terputus itu adalah sedekah Jariyah, sehingga ketika
kita matipun amalan itu akan terus mengalir. Alangkah indahnya hidup seorang
Abdurrahman Bin A’uf dan juga Utsman Bin Affan, Mereka dianugerahkan oleh Allah
SWT sebuah aliran kekayaan yang tiada henti mengalir. Namun berkat Kesholehan
dan sifat Kehambaan 2 sahabat mulia tersebut, mereka rela untuk menyumbang
lebih dari separuh harta mereka untuk membantu Dakwah Rasulullah. Begitulah 2
sahabat mulia ini hingga mereka dimuliakan oleh Allah menjadi salas satu dari
10 sahabat Nabi yang dijanjikan Surga
maka benarlah sabda
Nabi Muhammad saw:
“Hai
anak Adam! Sesungguhnya jika kamu memberi dari kelebihan hartamu adalah baik
bagimu, dan buruk bagimu jika kamu menahannya, engkau tidak akan dicela selama
kamu tidak meminta-minta, mulailah bersedekah kepada keluargamu, dan tangan di
atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah.” (Hadits riwayat Muslim
dari Abu Umamah bin ‘Ijlan ra.)
Mencari nafkah itu
pekerjaan terhormat dan pekerjaan para Nabi Allah. Ia membangun kemuliaan
karena tidak mengemis, dan besar kemungkinan ia dapat memberi dan membantu
orang lain, walaupun ia seorang penjual es, atau pandai besi seperti Nabi Daud,
atau pedagang seperti Nabi Muhammad, tidak ada salahnya asal rezeki itu halal
dan manusianya bersyukur. Walaupun selama ini jarang kita lihat ada orang kaya
yang tidak bahagia, namun ingatlah bahwa kebahagiaan tidak selamanya selalu
diukur dengan kekayaan. Ada beberapa factor lain yang dapat diukur apakah
seorang Manusia itu bahagia atau tidak.
Contohnya adalah nikmat
kesehatan. Tak ada gunanya kita kaya jika sakit-sakitan. Emas dan berlian pun
seakan tak ada manfaatnya jika megejarnya tanpa memperhatikan kesehatan diri.
Selanjutnya adalah Nikmat
Silaturahim. Allah menciptakan setiap manusia saling bersaudara satu sama
lainnya. Sering-seringlah berkunjung ke sanak saudara, baik saudara dekat maupun
saudara jauh, karena silaturahmi akan melancarkan pintu rezeki bagi setiap umat
yang menjalaninya. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rejekinya, atau ditunda
umurnya, maka hendaknya ia bersilaturahmi” (muttafaqun ‘alaih)
Itu hanyalah beberapa contoh kecil
penentu kebahagian hidup. Tak ada salahnya memang setiap manusia itu untuk
bekerja keras untuk memperjuangkan kemakmuran hidupnya. Namun alangkah buruknya
jika kita melakukannya secara berlebihan dan kelewat batas. Meskipun batasan
setiap manusia itu berbeda satu dengan yang lainnya. Segala sesuatu yang
berlebihan itu akan meninggalkan Mudharat bagi setiap pelakunya. Sesuatu yang instan itu jarang bertahan lama, ataupun sering mengalami
kegagalan. So, carilah rezeki itu dengan hati yang tulus, ikhlas, dan senang.
Janganlah terlalu berambisi, karena orang yang sangat berambisi cenderung dapat
berbelok ke jalan yang tidak benar dan menghalalkan segala cara. Dan jangan
lupa sisihkanlah apa yang kau perjuangkan mati-matian itu!, sehingga walaupun
secara harfiah ia tidak kau bawa mati paling tidak ia menimbulkan manfaat yang
berguna buat pertanggungjawabanmu setelah kau mati. (Hans)
Kamis, 26 Maret 2015
Seandainya Islam bersatu!!!
Seandainya
Muslim bersatu. Ah..Itulah yang
terlintas di benak kita sekarang ini. Tak tega rasanya harga diri ini diinjak
terus-terusan. Berbagai kekacauan melanda dunia Islam kini namun tak ada
satupun dari kita yang acuh. Semua hanya karena kepentingan semu semata. Tangisan
dan jeritan memekikkan dari Gaza dan
Suriah pun diabaikan oleh penguasa Zalim yang seakan tak lelah menyumbang
Minyak buat Si Musuh.
Seandainya
saja Kekhalifahan Ustmani tidak jatuh ke tangan kotor Barat sekuler itu,
mungkin saja peradaban Islam yang telah diperjuangkan Rasul dan sahabat akan
tetap lekang hingga kini. Tak ada yang namanya tangisan. Yang ada hanya tawa
manis dari anak kecil yang sedang diantar ayahnya menuju sekolah. Tak ada
ratapan, yang ada hanya senyuman. Senyuman yang muncul melihat jayanya dunia
Islam.
Tapi apalah
guna meratapi nasib. Muslim saat ini pecah! Tidak ada lagi kehidupan 1001 Malam
Ala kota Baghdad di Zaman Khalifah Harun Al-Rasyid. Tidak ada lagi kita
saksikan lahirnya Ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti di Zaman kekhalifahan Andalus.
Tidak ada lagi kita saksikan jayanya perdagangan Islam seperti halnya di
Islambol dulu. Yang ada hanyalah kekacauan disana-sini. Pemimpin amanah
digulingkan namun yang Munafik diagungkan. Orang berjenggot di cap teroris sementara yang setengah
telanjang jadi artis. Ke Mesjid dianggap cupu sementara ke diskotik dianggap
gaul. Kiranya begitulah gambaran rusaknya moral kita saat ini. Kita terperdaya
dan termakan konspirasi yang dibuat oleh kaum sekuler.
Seandainya ISLAM bersatu saja dari
sekarang juga. Mungkin Yahudi yang jumlahnya tak lebih dari 1 juta akan kalah.
cobalah renungkan wahai sahabatku!!! ISLAM di Dunia ada berapa? lebih dari 1
Milyar banyaknya. namun kita kalah dengan yang hanya sekitar 1 juta-an itu....
kenapa? karena mereka bersatu, sedangkan kita malah bercerai berai. Disaat
mereka sukses dengan konspirasi dan misionaris kita malah saling mengkafirkan.
Yang tak sesuai dengan tujuan golongannya di cap kafir. sering sekali akibat
perbedaan pemahaman, sering terucap kata atau kalimat "Kaulah 'kafir'
Sesungguhnya". Padahal sudah seharusnya kita mengislamkan yang kafir bukan
malah mengkafirkan yang Islam.
Di Indonesia???? Ah sudahlah…..!!! hanya karena penentuan jadwal Ramadhan saja kita
bertengkar bagaimana mau melihat umat Islam di negara ini maju??? Kita tahu ada
banyak ormas dan golongan yang mengatasanamakan Islam di Indonesia…..sebut saja
Muhammaddiyah,NU,PKS,HTI,dan lain-lain. Namun masih sulit bagi mereka untuk
dapat bersatu. Disaat mereka masih berdebat dan saling menunjukkan mana
diantara mereka yang terbaik. Disaat itu juga muncul golongan pengganggu dan
munafik dari kalangan Syiah,Liberal,ataupun Khawarij.
Begitulah wahai sahabatku yang
dinginkan oleh baginda Rasulullah SAW. Umat Islam bersatu. Jika saja apa yang
dikatakan saudara kita diatas menjadi kenyataan. Tidak perlu kita lihat
pemimpin kafir memimpin negeri ini ataupun melihat demo sana karena kezaliman
dari penguasa rakus pemakan uang rakyat.
Umat islam ini seperti sebuah Puzzle
yang kalo digabungkan bagian demi bagiannya maka barulah menjadi satu gambaran
yang utuh dan saling melengkapi. Jika Puzzle itu sudah bisa digabungkan, maka
tak perlulah lagi kita takut akan kebengisan Si Musuh.
Bersatu bukan berarti kita harus
menunggu dulu IMAM MAHDI turun dulu. Bersatunya umat Islam akan muncul dengan
sendirinya jika kita memiliki hati yang luas, seluas hatinya Hasan Bin Ali.
Akan muncul jika kita memiiliki sikap yang sabar, sesabar Umar bin Abdul Aziz.
Akan muncul jika kita memiliki jiwa ksatria yang kuat, Sekuat Muhammad
Al-fatih. Dan pastinya akan muncul jika kita memiliki Iman yang sempurna,
sesempurna Imannya Baginda Rasulullah SAW.
Mari kita hapus air mata saudara kita
di Gaza dan Suriah,mari kita hapus kelaparan di bumi Somalia,mari kita hapus
perpecahan di hati kita. Mari Bersatu Sahabat Semuanya. dan mari Lawan
Keterpurukan ini. Singkirkan ego dan jadilah Khalifah sejati.
Ah…..seandainya saja Umat Islam bersatu! (Hans)
Rabu, 11 Februari 2015
Pengen Kaya???
19
Ibadah dalam Islam, yang memotivasi untuk Kaya
Islam mengajarkan
agar umatnya untuk hidup terbebas dari kemiskinan, sebagaimana do’a
Rasulullah :
“…Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran/miskin
dan kekafiran…”
[Hadits Shahih atas syarat Bukhari, dikeluarkan oleh Imam Hakim
(1/530) dan Imam Ibnu Hibban (no. 2446).]
Di dalam salah satu hadis, Rasulullah menganjurkan
umatnya untuk menjadi dermawan dan bukan menjadi peminta-minta.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا
قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ
يَذْكُرُ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ عَنْ الْمَسْأَلَةِ الْيَدُ الْعُلْيَا
خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى
السَّائِلَةُ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik bin
Anas -sebagaimana yang telah dibacakan kepadanya- dari Nafi’ dari Abdullah bin
Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar,
beliau menyebut tentang sedekah dan menahan diri dari meminta-minta. Sabda
beliau: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan di
atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan
peminta-minta (HR. Muslim No.1715)
Dalam praktek peribadatan, sesungguhnya sangat
banyak kita ditemui perintah-perintah yang pada
hakekatnya, memberi motivasi untuk hidup berkecukupan, di antaranya
:
01. Di dalam bacaan Shalat duduk diantara dua sujud, kita selalu
memohon untuk diberikan kelapangan rezeki.
RABBIGHFIRLI WARHAMNI WAJBURNI WARFA’KNI WARZUQNI WAHDINI
WA’AFINI WA’FU ‘ANNI.
artinya:
Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, sehatkanlah aku dan maafkanlah aku.
Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, sehatkanlah aku dan maafkanlah aku.
02. Hidup berumah tangga, adalah salah satu cara memperoleh
karunia ALLAH serta memberi motivasi kita untuk hidup layak, dimana memberi
nafkah untuk keluarga bernilai Shadaqah.
Firman ALLAH :
وَ أَنْكِحُوا الْأَيامى مِنْكُمْ وَ الصَّالِحينَ مِنْ
عِبادِكُمْ وَ إِمائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَراءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
وَ اللهُ واسِعٌ عَليمٌ
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan
orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki, dan
hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan
mencukupkannya dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha
Mengetahui,”
(QS an-Nuur (24) ayat 32).
(QS an-Nuur (24) ayat 32).
Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَا أطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أطْعَمْتَ
وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَ مَا أطْعَمْتَ وَالِدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ،
وَ مَا أطْعَمْتَ زَوْجَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ،
“Apa yang engkau berikan untuk memberi makan dirimu sendiri,
maka itu adalah shadaqah bagimu, dan apa yang engkau berikan untuk memberi
makan anakmu, maka itu adalah shadaqah bagimu, dan apa yang engkau berikan
untuk memberi makan ORANG TUAmu, maka itu adalah shadaqah bagimu. Dan apa yang
engkau berikan untuk memberi makan isterimu, maka itu adalah shadaqa bagimu…”
[HR Ibnu Majah, 2138; Ahmad, 916727; dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 1739]
[HR Ibnu Majah, 2138; Ahmad, 916727; dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 1739]
Rasulullah bersabda :
فْضَلُ دِيْنَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَليَ
عِيَالِهِ
Dinar terbaik yang dibelanjakan oleh seseorang lelaki adalah
dinar seseorang yang dibelanjakan untuk nafkah keluarganya
[HR. Muslim (2/574)]
[HR. Muslim (2/574)]
03. Shalat Tahajud, sarana menggapai kebaikan dunia dan akhirat.
و حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ
عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا
يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah
menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir ia
berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya
di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu,
lalu ia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun
akhirat, kecuali Allah memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap
malam.” (HR. Muslim)
04. Shalat Dhuha, adalah bentuk peribadatan bernilai sedekah,
serta Kunci mendapatkan Rezeki
Rasulullah bersabda :
“Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan
empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu
pada sore harinya.”
(HR Hakim dan Thabrani)
(HR Hakim dan Thabrani)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ
صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ
تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ
صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ
يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى
“Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada
sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan
setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi
mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR.
Muslim)
05. Mencegah orang lain berbuat mungkar, terkadang juga
memerlukan dana yang cukup besar, namun balasannya adalah akan memperoleh
rahmat dari ALLAH.
Allah Ta’ala berfirman :
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ
وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ
سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang
lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.
mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah (9) ayat 71)
(QS. At-Taubah (9) ayat 71)
06. Pembebasan Hutang, tentu diperlukan harta yang cukup. Dan
keutamaan seorang yang membebaskan hutang saudaranya, akan mendapat kemudahan
dari ALLAH di hari akhir
Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا
نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang melapangkan suatu kesusahan seorang mukmin di
dunia, niscaya Allah akan melonggarkan satu kesusahannya di akhirat.
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Barang siapa yang memudahkan urusan orang yang ditimpa kesulitan
(hutang), niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat
وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ
أَخِيهِ
…Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia juga
menolong saudaranya.”
(Riwayat Muslim)
07. Menuntut Ilmu dengan tujuan agar memberi kebaikan kepada
orang lain, tentu memerlukan dana yang besar, namun balasannya setara dengan
sedekah Jariyah.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ
وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua
amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
shalih yang mendoakan dia.” [HR. Muslim].
08. Kita diperintahkan untuk meninggalkan ahli waris dalam
keadaan cukup.
Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya
(cukup) lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka hidup melarat/miskin yang
menadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia (meminta-minta)”.
[Hadits Riwayat Bukhari 3/186 dan Muslim 5/71 dan lain-lain]
[Hadits Riwayat Bukhari 3/186 dan Muslim 5/71 dan lain-lain]
09. Menghidupi Karyawan yang bekerja kepada kita, tentu
memerlukan biaya yang cukup besar, dan akan bernilai sedekah bagi kita.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وَ مَا أطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ
“…dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan pelayanmu,
maka itu adalah shadaqah bagimu.”
[HR Ibnu Majah, 2138; Ahmad, 916727; dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 1739]
[HR Ibnu Majah, 2138; Ahmad, 916727; dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 1739]
10. Membantu orang yang berjuang di jalan ALLAH, diperlukan dana
yang tidak sedikit, namun balasannya juga sangat luar biasa.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda :
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ
خَلَفَهُ فِى أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barangsiapa menyiapkan bekal bagi seorang mujahid di jalan
Allah sungguh ia telah berjihad dan barangsiapa menjaga keluarga yang
ditinggalkan seorang mujahid maka sungguh ia telah berjihad”
(HR.Muslim : 12/425)
(HR.Muslim : 12/425)
11. Pembagunan Masjid, terkadang memerlukan dana yang sangat
besar, dan balasannya juga sangat hebat
Rasulullah bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِداً يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ
لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ . وفي رواية لمسلم: بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa membangun masjid –karena mengharap wajah Allah-
maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di dalam syurga.” Dan
dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafal: “rumah di dalam syurga.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
12. Memberi makanan berbuka puasa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم
شيئا
“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain
yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun
mengurangi pahalanya.”
(HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)
(HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)
13. Menjadi juru dakwah, diperlukan dana operasional yang
lumayan besar
Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa
menyeru ke jalan petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala
orang-orang yang mengikutinya, yang tidak terkurangi sedikitpun dari
pahala-pahala amal mereka sama sekali. Barangsiapa menyeru kepada jalan yang
menyesatkan, maka baginya dosa semisal (sama) dosa orang-orang yang
mengikutinya, yang tidak terkurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka sama
sekali.” (Shahih Ibnu Majah : No. 0172).
14. Pelindung bagi anak Yatim
ALLAH berfirman :
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا
وَأَسِيرًا﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ
جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang
miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan
kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allâh, kami tidak menghendaki
balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
[QS. al-Insân (76) ayat 8-9].
[QS. al-Insân (76) ayat 8-9].
15. Bersedekah adalah mengundang rezeki
Rasulullah saw bersabda:
“Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali
bertambah, bertambah, bertambah.”(HR. Al Tirmidzi)
16. Infaq menghindari diri dari kebinasaan
ALLAH berfirman :
وَأَنفِقُواْ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ
إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُواْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan berinfaklah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah
kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al
Baqarah (2) ayat 195)
17. Zakat adalah sebagai pembersih
ALLAH berfirman :
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ
بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu,
kamu membersihkan dan mensucikan mereka”.
[QS. At Taubah (9) ayat 103].
[QS. At Taubah (9) ayat 103].
18. Ber-Qurban tentu diperlukan dana yang tidak sedikit, namun
balasannya sangat besar
Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai
Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah
sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang
kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai
rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau
bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu
kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah]
19. Haji dan Umroh adalah ibadah dengan dana yang lumayan besar,
dan menjadi sarana terkabulnya do’a, dimana balasan bagi Haji yang Mabrur,
adalah Surga
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
اَلْغَازِي فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ،
وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ. وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ.
“Orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang menunaikan
haji dan umrah, adalah delegasi Allah. (ketika) Allah menyeru mereka, maka
mereka memenuhi panggilan-Nya. Dan (ketika) mereka meminta kepada-Nya, maka
Allah mengabulkan (pemintaan mereka).”
[Hasan: Sunan Ibni Majah (II/966, no. 2893); lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2339)]
[Hasan: Sunan Ibni Majah (II/966, no. 2893); lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2339)]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا،
وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.
“Umrah ke umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji
yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.”
[ Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (III/597, no. 1773), Shahiih Muslim (II/987, no. 1349), Sunan at-Tirmidzi (II/206, no. 937), Sunan Ibni Majah (II/964, no. 2888), Sunan an-Nasa-i (V/115)]
[ Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (III/597, no. 1773), Shahiih Muslim (II/987, no. 1349), Sunan at-Tirmidzi (II/206, no. 937), Sunan Ibni Majah (II/964, no. 2888), Sunan an-Nasa-i (V/115)]
Teladan Sahabat
Para sahabat, yang dikenal sebagai MILYADER, antara
lain :
1. Utsman bin Affan ra.
Saat Perang Tabuk, beliau menyumbang 300 ekor unta, setara
dengan nilai Rp. 3 Milyar, serta dana sebesar 1.000 Dinar Emas, yang setara
dengan Rp. 2,37 Milyar.
Ubaidullah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh, Utsman ra.
masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: 30.500.000 dirham
(setara dengan Rp. 2,05875 Trilyun) dan 100.000 dinar (setara dengan Rp. 237
Milyar).
2. Abdurrahman bin Auf ra.
Ketika menjelang Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf mempelopori
dengan menyumbang dana sebesar 200 Uqiyah Emas atau setara dengan Rp. 3,5
Milyar.
Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq
fi Sabilillah, atau setara dengan nilai Rp. 118,5 Milyar.
Dari Ayyub (As-Sakhtiyani) dari Muhammad (bin Sirin),
memberitakan ketika Abdurrahman bin Auf ra. wafat, beliau meninggalkan 4 istri.
Seorang istri mendapatkan warisan sebesar 30.000 dinar emas. Hal ini berarti
keseluruhan istri-nya memperoleh 120.000 dinar emas, yang merupakan 1/8 dari
seluruh warisan.
Dengan demikian total warisan yang ditinggalkan oleh Abdurrahman
bin Auf ra, adalah sebesar 960.000 dinar emas, atau jika di-nilai dengan nilai
sekarang setara dengan Rp. 2,2752 Trilyun.
Rabu, 28 Januari 2015
Mencetak Generasi Emas Tanpa Riba!
Tulisan ini sebenarnya saya buat saat ingin mengikuti lomba Karya Tulis SES STAN. Alhamdulillah......artikel saya bukan yang terbaik hehehehe. Nah supaya tulisan saya bisa lebih bermanfaat, lebih baik saya posting di Blog saya yang belum seberapa ini ya.....
Mohon dikoreksi jika tulisan saya salah thx.
Kaya Tanpa Riba
Pada
dasarnya semua orang ingin kaya. Tidak ada yang melarang manusia untuk kaya,
bahkan Allah mencintai orang yang senantiasa berusaha untuk kesejahteraan
hidupnya. Berikut Firman Allah dalam Surah Al-Qasash ayat 77
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”
Dari
ayat diatas jelas Allah SWT tidak melarang umatnya untuk memperoleh kebahagiaan
dunia termasuk kaya. Nah, untuk mencapai sebuah kekayaan namun
juga akan berkah tentunya harus berpegang teguh pada ekonomi Syariah, ekonomi
yang berpondasi pada hukum-hukum Islam. Dalam hal ini tentunya kita sudah jelas
harus banyak belajar pada sosok hebat bernama Muhammad Bin Abdullah. Rasulullah Muhammad SAW pernah berkata bahwa sebagian
besar rezeki manusia diperoleh dari aktivitas dagang. Kejeniusan beliau dalam
mengelola alur perdagangan dan tentunya Zakat di tanah Arab membuat Mekkah dan
Madinah menjadi negeri yang makmur meski beribu masalah datang menghampiri Umat
Islam.
Kalau
kita lihat pada masa sekarang ini, Kesadaran masyarakat muslim akan pentingnya
ekonomi islam kian hari semakin meningkat meskipun masih belum begitu pesat.
Namun sedikit demi sedikit pengetahuan masyarakat terhadap sistem ekonomi
syariah akan terus berkembang dengan semakin gencarnya gerakan ekonomi syariah baik
di dunia maupun di tanah air. Sudah banyak lahir Perusahaan-perusahaan dan
Bank-Bank yang meletakkan konsep dasar ekonomi Islam kedalam Usaha mereka.
Konsep dasar Ekonomi Islam yang Menitikberatkan pada konsep “No Bunga” adalah
dengan menjadikan manusia sebagai subjek Ekonomi bukan Objek Ekonomi. Setiap
Muslim wajib dan jelas untuk patuh dan berperan dalam Syiar Islam termasuk
dalam berekonomi.
Sekarang yang
jadi pertanyaan adalah, Bagaimana peran Mahasiswa?
Mahasiswa
sebagai salah satu elemen reformasi adalah harapan satu-satunya dari generasi
tua. Amanah besar dipegang olehnya. Sebagai Agen Perubahan yang jauh berpikir
ke depan namun tidak meninggalkan apa yang telah diwariskan pendahulu mereka. Terkhusus
bagi Mahasiswa Muslim yang harus selalu sedia menjadi penerus Panji-panji Jihad
Rasulullah tentunya tak ada pilihan lain selain berpegang teguh pada Al-Qur’an
dan Sunnah, termasuk dalam berekonomi.
Banyak
peran yang dapat dimainkan oleh Mahasiswa Muslim dalam berekonomi dan alangkah
lebih baiknya jika mereka bisa memadukan semuanya.
Peran Pertama yakni sebagai Pionir.
Dalam
hal ini Mahasiswa yang tentunya mewakili semangat Muda-mudi Islam masa kini
berperan sebagai orang yang “Take Action”. Mahasiswa dituntut untuk bisa
mandiri dalam berekonomi. Mengelola keuangan tanpa Riba, menegakkan dan amanah
terhadap Zakat dan Shodaqoh, Rikaz, dan Waqaf.
Mahasiswa
yang mandiri adalah mahasiswa yang tidak terlalu berharap pada Orang tuanya.
Mahasiswa dituntut untuk menjadi Entrepreunership disamping kewajibannya
menuntut ilmu. Jualan sambil dagang??? Bukan tidak mungkin. Ada banyak hal yang
dapat dijual oleh mahasiswa namun juga menebar pahala. Contoh kecil adalah
mahasiswa yang berjualan Hijab, Buku-buku agama, Alat-alat sholat. Itu hanyalah
contoh kecil. Contoh besar tentunya dengan mengadakan seminar akbar ekonomi
Syariah dengan mengundang motivator-motivator hebat yang diharapkan dari hal
ini dapat menelurkan pemikiran-pemikiran hebat terhadap mahasiswa itu sendiri
dan diteruskan sampai kepada masyarakat.
Dalam
kehidupan sehari-hari juga tentunya Mahasiswa juga tidak bisa dilepaskan dari
aktivitas berekonomi seperti, Jual-beli, Utang-piutang,Sewa-menyewa hingga
menyimpan uang di Bank. Dalam hal yang menyangkut Riba, tentunya mahasiswa yang
cerdas tahu betul bahwa Riba itu adalah haram oleh karena itu alangkah baiknya
jika dalam kehidupan sehari seperti halnya hutang-piutang atau jual beli
mahasiswa tidak meletakkan Riba kedalamnya. Dalam menabung Uang ke Bank
hendaknya lebih memilih menabung di Bank-Bank yang berbasis Syari’ah ketimbang
Bank-Bank Umum walaupun sebenarnya Bank itu sendiri sebenarnya adalah bagian
dari Riba juga. Namun secara Umum masyarakat saat ini lebih suka menyimpan uang
di bank ketimbang menyimpan secara Pribadi. Nah,
Untuk kasus seperti ini sebaiknya kita berpegang pada sabda Nabi sebagai
berikut.
“Jika kau dihadapkan dalam 2 pilihan yang buruk maka
pilihlah diantara kalian 1 pilihan yang kadar Mudharatnya jauh lebih sedikit”
Tentunya sebagai
manusia cerdas dan berakhlaq kita akan memilih pada Bank Syariah. Paling tidak
konsep dasar nilai-nilai Islam masih ada dalam Bank Syariah.
Dalam
hal tanggung jawab. Tentunya sudah kewajiban bagi setiap manusia untuk
menyalurkan Zakat dan Sedekah. Pada Zaman Rasulullah Zakat merupakan salah satu
penerimaan terbesar buat pemerintahan Rasulullah. Jika dalam lingkup
kemahasiswaan saja kita sudah mampu menyikapi Zakat dan sedekah secara serius,
Bayangkan saja masa depan Indonesia mungkin akan lebih cerah dan tidak selalu
berharap terhadap penerimaan pajak dan Cukai tembakau sebagai penerimaan
terbesar Negara yang sesungguhnya rawan Mudharat.
Zakat dan
pajak merupakan dua hal yang penting dan tidak dapat dipungkiri keberadaannya
dalam kehidupan masyarakat sehingga timbul permasalahan mengenai hal mana yang
harus lebih diutamakan. Zakat adalah wajib bagi Muslim sementara pajak????
Pajak sebenarnya diwajibkan bagi orang-orang non muslim
kepada pemerintahan Islam sebagai jaminan keamanan. Maka saat pajak dibebani
untuk orang Islam, banyak ulama yang menentangnya namun ada juga yang
membolehkannya tentunya dengan syarat. Diantara ulama yang membolehkan
pemerintahan Islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah Imam Ghozali, Imam
Syatibi dan Imam Ibnu Hazm. Mereka berpendapat bahwa jika Negara sangat
membutuhkan dana maka Negara boleh memungut pajak dari kaum muslimin.
"Sesungguhnya
pada harta ada kewajiban/hak (untuk dikeluarkan) selain zakat."
( HR Tirmidzi, no: 595 dan Darimi, no : 1581, di dalamnya ada rawi
: Abu Hamzah ( Maimun ), menurut Ahmad bin Hanbal dia adalah dho’if hadist, dan
menurut Imam Bukhari : dia tidak cerdas )
Ulama
yang ilmunya tentu sudah tidah dapat diragukan lagi dalam hal ini saja masih
bisa berbeda pendapat. Toh, dengan
kita yang sesungguhnya masih awam. Oleh
karena itu dibutuhkan lebih dari Mahasiswa cerdas untuk menyikapi gejolak yang
tiada akhir di masa mendekati akhir Zaman ini. Dibutuhkan Mahasiswa Berakhlaq
agar dapat membedakan yang Haq dan Bathil dalam kehidupan sehari-hari. Namun
yang terpenting dalam perekonomian Islam, “Jalankan
Zakatmu!!” karena itu wajib bagi setiap Muslim yang hidup.
Peran
Kedua yakni sebagai Da’i.
Sebagai
generasi yang sangat dibanggakan oleh Baginda Rasulullah, Jalan Dakwah yang
merupakan warisan Rasulullah wajib kita teruskan tak terkecuali dalam kegiatan
ekonomi.
“Sampaikanlah Ilmuku walau hanya 1 ayat”
Di
Masa lalu kita punya Ibnu Khaldun dan tentunya Rasulullah yang berperan sebagai
Tokoh ekonomi namun juga seorang Da’i. Di masa sekarang ini khususnya di
Indonesia kita punya Bapak Al-Ustadz Yusuf Mansur sebagai tokoh Ekonomi yang
berperan sebagai Mubaligh juga. Mahasiswa yang merupakan sosok Intelek
khususnya yang akrab dengan perkuliahan masalah ekonomi tentunya harus bisa
memahami masalah dengan cerdas terkait ekonomi konvesional dan memadukannya
atau malah mengganti jika ada yang keliru dengan Ekonomi Syariah. Bagaimana
caranya??? Jawabannya adalah dengan Dakwah. Dakwah yang paling popular dikalangan
Mahasiswa adalah dengan menulis. Sahabat,Menantu,sekaligus Sepupu Nabi Muhammad
pernah berkata “Jika kau memiliki Ilmu
maka tulislah ia, agar ia abadi”. Dalam menulis khususnya mengenai Ekonomi
Syariah yang kebanyakan berlandaskan pada Fiqh, mahasiswa tidak boleh hanya berkutat
pada 1 referensi saja. Jangan sampai Ilmu yang tujuannya untuk memberi
pencerahan malah menghadirkan perselisihan.
Selain
Menulis, banyak hal lainnya seperti aktif langsung dalam kegiatan Tabligh Akbar
atau seminar yang membahas Khusus mengenai masalah perekonomian Syariah. Dengan
begitu diharapakan Mahasiswa juga dapat menjadi lintas dakwah secara langsung
dengan menjadi paling tidak motivator dalam berekonomi syariah dalam keluarga
dan teman-temannya.
Di
Zaman yang serba canggih ini, Lintas Dakwah semakin kreatif. Dakwah dapat
dilakukan lewat SosMed atau juga dapat melalui Spanduk dan poster-poster yang
dapat langsung menggaungkan Syiar Islam langsung kepada mereka yang melihat.
Peran
ketiga yakni sebagai Penyeimbang
Mahasiswa
harus bisa menularkan rasa optimis dan Idealis. Perekonomian Islam harus bisa
berkembang di tengah sekulerisasi dalam perekonomian dunia. Mahasiswa tidak
bisa lengah sedikitpun menghadapi gelombang arus globalisasi yang terus
menghadang. Ancaman ekonomi Kapitalis yang bersumber pada keuntungan Pribadi
dan ekonomi komunis yang bersumber dimana hak milik perseorangan tidaklah
diakui, adalah 101 % salah besar. Dalam ekonomi Islam tidak ada sedikitpun yang
dirugikan. Jikapun ia tidak Untung paling tidak ia tidak rugi.
Semua Kerugian Dikembalikan
kepada Harta dan Pemiliknya, Sementara Keuntungan Milik Kedua Belah Pihak. Begitulah Prinsip Ekonomi Islam. Alangkah
beruntungnya menjadi Umat Muhammad. Tidak ada ruginya sama sekali menjadi Umat
Islam. Untuk itu, Prinsip-prinsip Khilafah Islamiyah perlu ditegakkan kembali
agar bukan hanya perekonomian umat Islam saja yang stabil namun dunia secara
keseluruhan.
Ketiga contoh diatas sebenarnya adalah beberapa
contoh kecil dalam berekonomi Syariah. Banyak lagi hal yang dapat dilakukan
oleh Mahasiwa guna menelurkan Generasi Emas Syariah yang bebas Riba. Apapun
Jalan yang kita ambil untuk mendapat kekayaan pastikan jalan itu adalah jalan
yang halal. Pastikan Langkah yang kita ambil tidak hanya menjadikan manusia
yang sukses di dunia namun juga sukses di akhirat. Pastikan kita meraih
Surga-Nya bersanding dengan tokoh-tokoh hebat di masa lalu. Jadilah “The
Perfect Muslim”. Tegakkan Khilafah! Dan jadilah “Generasi Emas Tanpa Riba”.
Langganan:
Postingan (Atom)




